The Unglamorous But Important Thing Called Business Development

“Business Development” may be, for many people, some sort of corporate-speak that simply does not evoke inspiration in kids (or even teenagers, or even students… or even people already in their careers). It’s right up there with arcane terms lie “Sales”, “Marketing” and “Human Resources”, although I might say the latter three terms are a bit more popular.

So what is it exactly? I will go through my usual scenic route in describing it.

After getting fed up with both the sciences and the social sciences, I managed find my way into art school. There I would eventually graduate as a Product Designer. A product designer is basically a person which designs, well, products. Consumer products, industrial products, you name it — we were taught how to identify a problem we thought could be solvable through design, and conduct surprisingly scientific method of creating a product design. Since in the “real world” product designers will work together with engineers, for instance, a solid research and project management method was drilled into us from early on. Identify the problem, do the research for the optimum design, plan for production. But of course, there is only so much depth you can get in projects that have to be wrapped up in 6 months, the end of the semester, for grading. But for the 4,5 years I studied, I was essentially building new products every 6 months.

Read the rest of the post on Medium.

Urusan Hak Cipta Lagu Dalam Kampanye Capres, Gimana Tuh?

Screen Shot 2014-06-25 at 12.50.33 PM

Beberapa hari ini social media ramai dengan lagu “Prabowo-Hatta We Will Rock You” yang dibuat khusus videoklipnya oleh Ahmad Dhani. Klipnya ada di sini (kalau belum diturunkan). Ya intinya itu adalah lagu “We Will Rock You”nya Queen, tapi diganti liriknya. Tentunya karena lagi masa kampanye calon presiden, ini menjadi isu yang ramai sekali, terutama karena ‘perselisihan’ antara pendukung calon nomor 1 dan nomor 2 cukup tinggi. Terlebih lagi karena perhatian dunia pun sepertinya juga ikut mengamati jalannya proses kampanye calon presiden ini.

Nah bahasan pagi ini di kalangan industri musik, memangnya Queen sudah memberikan izin pada Ahmad Dhani untuk menggunakan lagunya, apalagi untuk kampanye calon presiden? Dari kubu pendukung Jokowi JK pun ada penggunaan lagu Owl City, apakah ini ada izinnya?

Screen Shot 2014-06-25 at 1.07.54 PM

Undang-undang Hak Cipta Indonesia itu terakhir dirumuskan tahun 2002, dan draft barunya sedang diajukan ke DPR saat ini yang lebih mutakhir; namun untuk saat ini, kita mengacu ke UU Hak Cipta 2002. UU Hak Cipta pasal 15 menyebutkan:

Dengan syarat bahwa sumbernya harus disebutkan atau dicantumkan, tidak dianggap sebagai

pelanggaran Hak Cipta:

a. penggunaan Ciptaan pihak lain untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya

ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah dengan tidak

merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta;

b. pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan

pembelaan di dalam atau di luar Pengadilan;

c. pengambilan Ciptaan pihak lain, baik seluruhnya maupun sebagian, guna keperluan:

(i) ceramah yang semata-mata untuk tujuan pendidikan dan ilmu pengetahuan; atau

(ii) pertunjukan atau pementasan yang tidak dipungut bayaran dengan ketentuan tidak

merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta.

d. Perbanyakan suatu Ciptaan bidang ilmu pengetahuan, seni, dan sastra dalam huruf braille

guna keperluan para tunanetra, kecuali jika Perbanyakan itu bersifat komersial;

e. Perbanyakan suatu Ciptaan selain Program Komputer, secara terbatas dengan cara atau alat

apa pun atau proses yang serupa oleh perpustakaan umum, lembaga ilmu pengetahuan atau

pendidikan, dan pusat dokumentasi yang no nkomersial semata-mata untuk keperluan

aktivitasnya;

f. perubahan yang dilakukan berdasarkan pertimbangan pelaksanaan teknis atas karya

arsitektur, seperti Ciptaan bangunan;

g. pembuatan salinan cadangan suatu Program Komputer oleh pemilik Program Komputer yang dilakukan semata-mata untuk digunakan sendiri.

Yang paling perlu diperhatikan dalam kasus ini adalah ayat C, yang kurang lebih mengatur soal fair use untuk hak cipta (termasuk hak cipta lagu). Esensinya adalah, hak cipta melindungi Pencipta dengan hak ekslusif untuk mengumumkan dan memperbanyak ciptaannya (Pasal 2 ayat 1), sehingga dasarnya, semua penggunaan hak cipta itu paling tidak perlu izin dari penciptanya, terlepas dari implikasi komersil yang mungkin timbul.

Pasal 15c memberikan keleluasaan atas prinsip ini, sejauh hak cipta milik orang lain tersebut digunakan untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan, dan untuk pertunjukan/pementasan gratis, dengan syarat tidak merugikan “kepentingan yang wajar” dari pencipta. Kalau di luar negeri aturan mengenai parodi lebih jelas, namun di UU Hak Cipta Indonesia tidak dinyatakan jelas, parodi itu kedudukannya di mana, dan hanya diatur oleh Pasal 15C tadi.

Karena Pasal 15c tidak menyebut parodi secara khusus – satu-satunya kategori di mana karya Ahmad Dhani maupun para pendukung Jokowi-JK yang membuat parodi lagu Owl City bisa diterima secara hukum, karena kalau dari sisi lain, jelas melanggar – maka dari itu kedua karya (dan karya-karya lain bisa dimasukkan ke ‘pertunjukan atau pementasan tanpa dipungut bayaran dengan ketentuan tidak merugikan kepentingan yang wajar dari Pencipta’.

Nah, ‘kepentingan yang wajar’ ini dapat diartikan secara luas – belum tentu secara bisnis atau ekonomi saja, bisa juga kepentingan politik, moral, atau ya sesuka si pencipta pada akhirnya, selama masuk kategori ‘wajar’. Balik lagi ke esensinya, ada izin atau nggak? Dan kalau akhirnya si pemilik hak cipta (atau pihak yang dikuasakan untuk mewakili) sudah mengetahui pemakaian hak cipta oleh orang lain, apakah tetap diberikan izin?

Yang membuat kasus ini menjadi makin rumit adalah, dunia hak cipta/copyright ini memang sesuatu yang tidak banyak diketahui orang awam, karena memang sangat rumit. Sekelompok mahasiswa yang tidak bergerak di hak cipta pastinya tidak tahu, lha wong kesadaran soal hak cipta di kalangan mahasiswa sastra, desain, arsitek dan sebagainya pun belum tentu tinggi. Tapi seorang musisi kenamaan, masa sih nggak ngerti soal proses pengajuan penggunaan lagu, sesuai aturan hak cipta.

Pada akhirnya, kalau secara prinsip melanggar, akan balik lagi ke pencipta atau pihak yang dikuasakan pencipta (misalnya, publisher/penerbit musik) akan menindak atau nggak. Biasanya akan ada permintaan menurunkan konten dari Youtube dan jalur distribusi lain, kalau memang pihak pencipta keberatan. Ekstrimnya bisa ada tuntutan hukum. Tentunya, karya cipta lagu orisinil dari para pendukung capres manapun pastinya status hak ciptanya lebih jelas, maupun izin penggunaannya.

Hat tip to geng FGD Industri Musik dan Aulia Masna yang ikut membahas pagi ini.

Disclaimer: artikel ini membahas soal hak cipta. Kalau mau bahas yang lain silakan di tempat lain saja ya. 

 

 

Pentingnya Ekonomi Kreatif Dalam Strategi Ekonomi Indonesia

Dalam debat calon presiden semalam, sempat disebut-sebut soal ekonomi kreatif dan potensinya, terlebih lagi Pak Prabowo menyebut anaknya sebagai pelaku ekonomi kreatif yang sudah mulai dikenal di manca negara. Tapi, sebenarnya benda yang dinamakan ekonomi kreatif itu apa sih?

Buat gue sih ekonomi kreatif itu adalah industri atau usaha yang berdasar pada perwujudan hal ‘kreatif’ seperti seni, desain, pertunjukan, buku, dan sebagainya. Beda ya sama industri migas – bukan berarti seorang insinyur perminyakan tidak membutuhkan kreatifitas dalam pengembangan teknologi (dan pasti akan selalu butuh kalau konsumsi minyak kita harus makin diefisiensikan) – tapi, industri dalam ekonomi kreatif menjadikan kegiatan kreatif sebagai kegiatan utamanya. Kenapa disebut kegiatan kreatif? Karena kegiatan kreatif itu pasti ada proses kreasi. Masalah hasil proses kreasi itu ‘kreatif’ atau nggak ya urusan lain kan.

Read More…

An Argument For Micro-Subscriptions

Why should the new trend for subscription services — content, software, you name it — stop at monthly billing cycles?

We’ve probably all heard the story where back in the old days (I’ll let you figure out how far back that is), software delivered to users was in its final form, more or less perfect or at least following what the software writers wanted you to have. It was expensive to distribute software, as back then, you had to distribute them through floppy disks (and later on, CD-ROMs). Also, most computers were offline so there was no chance of doing the now-obiquitous software updates if a bug was found. Shipping software was a do-or-die thing — either it shipped perfectly and people happily used it, or there was a bug and people stopped using it.

Another thing that surfaced after software became even more dependent on an online connection (aside from software updates), was a shift in pricing. Previously, I had to shell out 200 bucks to get the most recent Office for Mac package (yes, it was 200 bucks as I couldn’t buy it online and had to buy it at one of those Apple Authorised Resellers at a premium), but now, I can ‘simply’ subscribe to Office 365 for as low as 7 bucks a month. I haven’t tried 365 yet as I’m quite happy with my current Office for Mac (which is at least 3 years old, gosh!) and I do have the installer, which for all intents and purposes, belongs to me (unless I missed something in the EULA which nobody ever reads).

Read the rest of the post on Medium.

[Manic Monday] Masalah-Masalah Inti Di Era Musik Digital

Industri musik pada intinya melibatkan hanya beberapa ‘pemeran’: pencipta lagu, artis/penyanyi/band, dan pendengar. Profesi dan institusi yang muncul kemudian, seperti perusahaan rekaman, publishercollecting society, radio, TV, layanan digital – semuanya akhirnya adalah metode dan bisnis yang bertugas untuk membantu yang di atas tadi. Pencipta lagu dan artis/penyanyi/band adalah yang membuat konten, dan pendengar adalah yang mengkonsumsi konten tersebut. ‘Pendengar’ dalam konteks ini bisa mencakup dari pendengar audio, penonton video sampai penikmat pertunjukan langsung.

Maka dari itu, masalah-masalah yang harus dicoba dipecahkan dalam menjalankan sebuah bisnis yang berbasis musik – digital ataupun tidak – harus mempertimbangkan tiga ‘pemeran’ tadi. Anggaplah kita melihat sebuah band sebagai bisnis: permasalahan pertama yang harus dipecahkan sebuah band apa sih? Ya, bagaimana menghidupi band itu sendiri, supaya bisa terus berkarya. Bagus kalau band tersebut memang bisa menghidupi diri sendiri dari karyanya, karena ya kalau nggak karena itu, buat apa bikin band kan. Kalau tidak? Kalau rencana bagaimana menjawab pertanyaan ini jelas, barulah berpikir soal live showdigital download, membuat website dan seterusnya. Kalau arahnya tidak jelas, saat mendapat hasil pun sulit diukur kalau ini menjawab masalah atau tidak.

baca selanjutnya di Dailysocial.

[Manic Monday] Tantangan Pemasaran Konten Budaya Indonesia

Hari Sabtu malam saya menyempatkan diri menonton pertunjukan Wayang Orang Rock Ekalaya, yang diselenggarakan di gedung Tennis Indoor Senayan. Pertunjukan ini menggabungkan cerita soal Ekalaya dan Drona, guru Pandawa Lima, dengan lagu-lagu rock dalam negeri maupun mancanegara. Secara musikal, artistik panggung sampai jalan cerita, pertunjukan ini menggabungkan berbagai unsur wayang orang dengan budaya musik rock. Di atas kertas, konsep yang sangat menarik dan sangat Indonesia, mengingat bahwa selain wayang memang bagian dari budaya Indonesia, budaya Indonesia modern tak jauh dari musik rock juga.

Pertunjukan menarik ini, entah kenapa, sepi peminat, walaupun didukung oleh berbagai band rock Indonesia, dengan konsep yang relatif unik. Pertunjukannya sendiri mulai 20.30, 30 menit lebih telat daripada jadwal (cukup wajar, karena sering ada toleransi waktu antara waktu yang diumumkan dan waktu mulai sebenarnya), hanya saja untuk acara yang kuat di dialog, struktur gedung Tennis Indoor sendiri tidak mendukung sehingga banyak bagian dialog sangat bergema sampai saya tidak mengerti apa yang dikatakan. Tata suara pun serasa tidak maksimal, mungkin karena saya duduk di tribun. Dan akhirnya karena sampai jam 22.30 pertunjukan belum selesai dan saya sudah terlampau lelah, akhirnya pulang tanpa menunggu akhir.

Baca selanjutnya di Dailysocial.

Ranting On Jakarta’s Traffic

Jakarta’s incomprehensible traffic has just about become world-popular, but would you like a local’s perspective?

I live in Jakarta. I’d like to think (and be grateful) that I live particularly well-off, smack in the middle of the so-called Indonesian middle class. I have a car that’s fully paid off, married and living with my parents-in-law in a decidedly upscale area near Jalan Bangka, Kemang [And yes, in Indonesia, it’s quite normal for multiple families living under one roof, even in the upscale areas]. But this isn’t the tale I want to convey.

Jakarta, and by extension Indonesia, is a car salesman’s dream. Similar to the LA, the only practical way to get around the city is by private vehicle, be it a car or a motorcycle (more on that later). There are bus routes, but the buses are in really bad condition, not to mention hunting grounds for pickpockets. To go from my home to my office in the Bulungan area, around 3km away, would take me changing buses and walking a lot, compared to a 20-minute ride on a car or motorcycle. I’d like to think I’m not lazy, but I hate to waste time, and avoid walking too much. Remember, Jakarta is a tropical city, where crossing the road can make you sweat from the humidity.

Read on at Medium.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,147 other followers