[Manic Monday] Masalah-Masalah Inti Di Era Musik Digital

Industri musik pada intinya melibatkan hanya beberapa ‘pemeran’: pencipta lagu, artis/penyanyi/band, dan pendengar. Profesi dan institusi yang muncul kemudian, seperti perusahaan rekaman, publishercollecting society, radio, TV, layanan digital – semuanya akhirnya adalah metode dan bisnis yang bertugas untuk membantu yang di atas tadi. Pencipta lagu dan artis/penyanyi/band adalah yang membuat konten, dan pendengar adalah yang mengkonsumsi konten tersebut. ‘Pendengar’ dalam konteks ini bisa mencakup dari pendengar audio, penonton video sampai penikmat pertunjukan langsung.

Maka dari itu, masalah-masalah yang harus dicoba dipecahkan dalam menjalankan sebuah bisnis yang berbasis musik – digital ataupun tidak – harus mempertimbangkan tiga ‘pemeran’ tadi. Anggaplah kita melihat sebuah band sebagai bisnis: permasalahan pertama yang harus dipecahkan sebuah band apa sih? Ya, bagaimana menghidupi band itu sendiri, supaya bisa terus berkarya. Bagus kalau band tersebut memang bisa menghidupi diri sendiri dari karyanya, karena ya kalau nggak karena itu, buat apa bikin band kan. Kalau tidak? Kalau rencana bagaimana menjawab pertanyaan ini jelas, barulah berpikir soal live showdigital download, membuat website dan seterusnya. Kalau arahnya tidak jelas, saat mendapat hasil pun sulit diukur kalau ini menjawab masalah atau tidak.

baca selanjutnya di Dailysocial.

[Manic Monday] Tantangan Pemasaran Konten Budaya Indonesia

Hari Sabtu malam saya menyempatkan diri menonton pertunjukan Wayang Orang Rock Ekalaya, yang diselenggarakan di gedung Tennis Indoor Senayan. Pertunjukan ini menggabungkan cerita soal Ekalaya dan Drona, guru Pandawa Lima, dengan lagu-lagu rock dalam negeri maupun mancanegara. Secara musikal, artistik panggung sampai jalan cerita, pertunjukan ini menggabungkan berbagai unsur wayang orang dengan budaya musik rock. Di atas kertas, konsep yang sangat menarik dan sangat Indonesia, mengingat bahwa selain wayang memang bagian dari budaya Indonesia, budaya Indonesia modern tak jauh dari musik rock juga.

Pertunjukan menarik ini, entah kenapa, sepi peminat, walaupun didukung oleh berbagai band rock Indonesia, dengan konsep yang relatif unik. Pertunjukannya sendiri mulai 20.30, 30 menit lebih telat daripada jadwal (cukup wajar, karena sering ada toleransi waktu antara waktu yang diumumkan dan waktu mulai sebenarnya), hanya saja untuk acara yang kuat di dialog, struktur gedung Tennis Indoor sendiri tidak mendukung sehingga banyak bagian dialog sangat bergema sampai saya tidak mengerti apa yang dikatakan. Tata suara pun serasa tidak maksimal, mungkin karena saya duduk di tribun. Dan akhirnya karena sampai jam 22.30 pertunjukan belum selesai dan saya sudah terlampau lelah, akhirnya pulang tanpa menunggu akhir.

Baca selanjutnya di Dailysocial.

Ranting On Jakarta’s Traffic

Jakarta’s incomprehensible traffic has just about become world-popular, but would you like a local’s perspective?

I live in Jakarta. I’d like to think (and be grateful) that I live particularly well-off, smack in the middle of the so-called Indonesian middle class. I have a car that’s fully paid off, married and living with my parents-in-law in a decidedly upscale area near Jalan Bangka, Kemang [And yes, in Indonesia, it’s quite normal for multiple families living under one roof, even in the upscale areas]. But this isn’t the tale I want to convey.

Jakarta, and by extension Indonesia, is a car salesman’s dream. Similar to the LA, the only practical way to get around the city is by private vehicle, be it a car or a motorcycle (more on that later). There are bus routes, but the buses are in really bad condition, not to mention hunting grounds for pickpockets. To go from my home to my office in the Bulungan area, around 3km away, would take me changing buses and walking a lot, compared to a 20-minute ride on a car or motorcycle. I’d like to think I’m not lazy, but I hate to waste time, and avoid walking too much. Remember, Jakarta is a tropical city, where crossing the road can make you sweat from the humidity.

Read on at Medium.

[Manic Monday] Dekonstruksi Budaya Pop Melalui Layanan Streaming

Sebelum masa internet, alur budaya modern, atau lebih tepatnya budaya pop, bisa dibilang sangat linier. Ada yang disebut musik ‘masa lalu’, ada yang baru, ada yang progresif, ada yang retro, dan sebagainya. Berbagai genre dan label diusung musik dari seluruh dunia, biasanya untuk mempermudah orang lain mengkomunikasikan soal musik ke orang lain di saat belum bisa didengarkan. Misalnya: papasan dengan teman di jalan, dan cerita soal band bernama Led Zeppelin. Tanpa label dan genre tadi, pasti sulit untuk menjelaskan musik Led Zeppelin seperti apa, apalagi di masa belum ada pemutar musik yang portabel. Sekarang, tinggal memberikan tautan YouTube atau mendengarkan dari HP teman.

Adanya musik ‘baru’ dan ‘lama’ tentunya sangat penting bagi sebuah industri musik rekaman, yang bisa dibilang hanya dapat menjual produknya sekali ke orang yang sama, apalagi jika dibandingkan dengan perusahaan-perusahaanfast-moving consumer goods yang menjual sabun, shampoo dan makanan siap saji. Pengulangan pembelian ke perusahaan yang sama hanya akan terjadi apabila ada produk baru, sehingga siklus media promosi musik pun dibentuk untuk terus mempromosikan yang baru, dan menggeser yang lama. Pola ini timbul bukan saja di musik, tapi di berbagai industri: film, fashion, buku, dan sebagainya.

Baca selanjutnya di Dailysocial.

What I Learned About The Product Cycle From… Ringback Tones

Thoughts from a guy who used to sell them (but didn’t read one book about marketing and products)

A few years ago, I worked for one of the largest recording companies in the world, Universal Music Group, in their offices in Jakarta. I joined in 2004 after little over a year at Soundbuzz, itself an early player in the digital music industry, to help UMG establish a digital business in Indonesia. My title was something along the lines of ‘New Media & Mobile’. I guess it was still new back then, and mobile was basically about selling monophonic ringtones.

I joined Universal at an opportune time — it was around the moment when Telkomsel was starting an odd service called ringback tones. How it works is that the call tune — the sound you hear while your waiting for the person you call to pick up — is replaced with a 30-second snippet of a song. Fresh off running a ringtone production division for Soundbuzz, it still took me a while to digest what the product actually is, because at that time the service wasn’t up.

Read the rest of the original post on Medium.

[Manic Monday] Strategi Produksi Konten Di Era Multilayar

Hari ini, mungkin sudah lumrah untuk kebanyakan orang di daerah urban, dengan koneksi internet yang memadai, untuk menikmati konten dari paling tidak dua layar sekaligus di satu saat. Saat kita berada di meja kerja, mungkin kita sedang berhadapan dengan komputer, tapi partner bisnis kita ngobrolnya via instant messaging di smartphone. Saat kita di rumah, sering sekali kita, sambil menonton film di TV, tetap browsing di HP, laptop atau tablet mengenai film tersebut, atau malah melihat yang lain sama sekali. Di beberapa gedung perkantoran, bahkan ada TV yang menayangkan berita, yang biasanya kita dengarkan sambil tetap melihat HP kita. Kita memang sudah hidup di dunia multilayar.

Mayoritas konten yang kita nikmati melalui layar-layar media digital tersebut ituon-demand, sesuai yang kita inginkan. Hanya dengan semudah memasukkan beberapa kata kunci pencarian di Youtube, kita dapat menonton kucing-kucing menari sepuasnya. Layanan musik seperti iTunes dan Spotify menyediakan lagu apapun yang kita inginkan, dan iBooks atau Kobo menawarkan berbagai buku digital sesuai minat kita. Walaupun memang banyak media masih menawarkan model penyebaran informasi yang distribusinya berkala, dan bukan berdasarkan permintaan, perusahaan-perusahaan media tersebut lambat laun beradaptasi ke basis konsumen yang sudah cenderung bergerak ke on-demand.

Baca selanjutnya di Dailysocial.

[Manic Monday] Berkurangnya Peran Lagu Sebagai Komoditas

Dalam berbagai artikel yang sudah saya tulis di sini selama hampir dua tahun, adalah pergeseran-pergeseran dalam industri musik, terutama yang berhubungan dengan lagu itu sendiri. Industri musik [rekaman] yang sudah berjalan puluhan tahun memang menempatkan penggandaan sebuah rekaman lagu untuk dijual sebagai intinya, baik itu dalam format vinyl, kaset, CD ataupun media digital. Hukum-hukum berbagai negara bahkan sampai tingkat internasional di WIPO sudah dirancang untuk melindungi industri penggandaan ini. Dalam konteks ini, rekaman lagu adalah komoditi.

Mungkin saya tidak perlu mengulas ulang apa yang terjadi ketika rekaman lagu bertemu dengan media digital dan internet dalam waktu yang hampir sama, yang nyaris menihilkan makna dari bisnis penggandaan rekaman lagu. Transfer lagu dari media CD ke dalam format MP3 bisa dilakukan siapa saja, dan juga disebar dengan mudah melalui internet, sehingga kontrol ketat yang dibutuhkan dalam bisnis yang mengandalkan penggandaan satu barang menjadi hilang. Sayangnya, pergeseran teknologi dan kebiasaan ini bukannya diteliti baik-baik oleh industri musik rekaman, tapi malah diserang dengan dasar pembajakan, sampai hari ini.

Baca selanjutnya di Dailysocial.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,071 other followers