Pentingnya Infrastruktur Seni Dan Sejarah Seni Untuk Membentuk Sesuatu Yang ‘Indonesia Banget’

Gue salah satu orang yang cukup beruntung dapat mengenyam pendidikan seni dan desain secara formal di Fakultas Seni Rupa & Desain ITB. Masuknya konon susah, dan gue mungkin ‘curang’ karena pas sebelum ujian masuknya yang didominasi menggambar, gue ikut yang namanya Puslat Mekar, semacam kursus kilat menggambar arsitektur buat yang pengen masuk ke Artistektur Universitas Parahyangan. Tapi nggak pernah tau sih kriteria masuk ke FSRD ITB sebenarnya apa; konon katanya yang dicari yang namanya agak aneh. Hahaha.

Anyway. Di sana kami diberikan pelajaran soal seni – sedikit soal konsep, sedikit soal sejarah, dan sedikit juga soal seniman-seniman dalam dan luar negeri. Jadi informasi ini ada untuk kita serap, karena infrastruktur pendidikan seninya ada. Pendukung kegiatan seni pun ada; FSRD ITB ada ruang galeri sendiri, dan kalau perlu semua studio di gedung fakultas bisa disulap jadi ruang pameran.

Ruang pameran ini yang menjadi kunci, kenapa gue merasa beruntung ketimbang orang lain. Meskipun ketertarikan dan skill gue ke seni murni sedikit, paling tidak gue bisa melihat berbagai karya dari teman sendiri, seniman yang sudah lebih terkenal, dan mendapatkan pengetahuan yang lebih rinci soal keberadaan ruang-ruang pameran dan art spaces yang ada di Indonesia (setidaknya di Bandung dan Jakarta).

Kenapa infrastruktur seni seperti ruang pameran dan art spaces ini penting? tempat ini menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, dan mencari inspirasi, buat siapapun yang berkarya di seni, terlepas dari soal pendidikan formal atau nggak. Karena toh, memang banyak orang berbakat, pendidikan formal itu yang mengarahkan sarjana-sarjana seni untuk bukan saja berkarya, tapi juga memikirkan perkembangan bidangnya (termasuk, misalnya, mengembangkan infrastruktur seni). Konon juga, seniman yang udah ‘jadi’, yang metode berkaryanya udah mateng, nggak diterima di FSRD ITB, karena ya buat apa.

Anyway, balik ke persoalan infrastruktur seni. Udah pasti, ruang pameran dan art spaces kurang. Pemerintah sih nggak menaruh ini sebagai prioritas (iya lah, banyak yang lain yang harus dibenerin). Art spaces yang mulai muncul kebanyakan swasta, dan mau tidak mau lebih mengarah ke komersial. Dan art spaces ‘virtual’, yang ada di Internet… ya ada nggak sih yang lebih khusus ke hasil karya orang Indonesia? Gue bahkan nggak tau. Tapi, kekurangan infrastruktur seni seperti ini mempengaruhi generasi-generasi seniman dan pekarya, sehingga mereka mencari tempat lain untuk belajar, cari inspirasi, cari referensi atau berdiskusi, karena nggak semua orang bisa atau cocok mengenyam pendidikan seni (gue pun nggak, karena gue memilih belajar desain).

Jadi wadahnya kurang, walaupun akhirnya sudah mulai bermunculan sendiri beberapa tahun ini.

Satu lagi yang kurang, adalah catatan sejarah seni rupa Indonesia. Kalau seni rupa dari Barat, Jepang, dan negara-negara lain dapat terdokumentasi dengan baik dan mudah, buku terakhir soal sejarah seni rupa Indonesia (setidaknya yang berani menyebut diri Sejarah) diterbitkan tahun 70an, dan oleh pemerintah. Gimana caranya seniman jaman sekarang mau terus mengembangkan gaya seni yang ‘Indonesia’ banget kalau referensinya kurang atau nggak ada? Implikasi ke budaya pop Indonesia juga jelas – ya yang lebih mudah diakses adalah komik Jepang dan Amerika, ya pastilah banyak yang mendasari cara menggambarnya dari teknik-teknik referensi tersebut.

Musik pun seperti itu – banyak musik Indonesia yang hilang dan mungkin tak bisa didengar lagi karena tergerus zaman dan kepentingan komersil, karena tidak ada infrastruktur yang melestarikannya. Tarian-tarian daerah yang pastinya sudah berumur ratusan tahun aja susah dijagain, apalagi karya-karya jaman sekarang.

Tapi nggak berarti harus selalu seperti itu. Berbagai upaya untuk merekonstruksi warisan sejarah seni Indonesia sedang dalam proses; sebutlah proyek Lokananta, atau usaha teman saya Aminuddin T.H Siregar untuk membentuk historiografi sejarah seni rupa Indonesia (yang tulisan-tulisannya menginspirasi saya untuk menulis esai ini). Yang perlu dilakukan ya pastinya terus berkarya; dan harus ada dari kita yang bertugas mendokumentasikan, memamerkan, dan mengkurasi. Bentuknya toh bisa apa saja.

Infrastruktur seni, dan kesinambungan sejarah seni, cukup penting untuk kita mendefinisikan identitas nasional kita, paling tidak dalam wacana seni rupa (dan seni-seni lain). Kecerdikan bangsa Indonesia untuk berkarya perlu direkam secara baik, supaya generasi-generasi berikutnya dapat akhirnya mengenal apa itu yang bisa disebut ‘Indonesia Banget’. Jangan takut untuk mengambil referensi atau inspirasi, karena sebagai orang yang berkarya, udah tau sendiri kok apa yang menjiplak atau bukan.

Dan kalau infrastrukturnya jelas, kepemilikan – lebih enak disebut ‘sense of belonging’ – pasti lebih jelas terbentuk juga :)

ditulis oleh pengamat amatir

Pertama dipublikasikan di Google+

About these ads

About barijoe

Failed Musician, Reformed Gadget Freak and Eating Extraordinaire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 4,147 other followers

%d bloggers like this: