It’s My Way Or The Busway

Tadinya gue mau nulis beberapa seri posting soal busway, tapi ternyata udah keduluan cewek ini. Gue sudah diizinkan oleh beliau untuk memposting ulang beberapa tulisannya di sini, jadi tunggu aja ya. Atau klik aja linknya, baca langsung di sumbernya.Memang niatan gue untuk memulai berbagai topik yang lain juga sih, tapi sejauh ini topik-topik baru selalu bermunculan. Namanya juga Jakarta, ga ada abis-abisnya bikin pusing atau heran. Nah kan ngelantur lagi…Anyway, sejak pertama dicanangkan, busway, atau Transjakarta tepatnya, udah jadi kontroversi. Banyak lah kontroversi itu, dari malah bikin makin macet, sampe mengganggu angkutan umum yang lain karena ngambil “jatah” penumpang. Tapi buat gue – dulu, keputusan untuk membuat busway itu jenius. Bukan jenius sih, tapi tepat waktu. Rencana semacam busway itu, percaya ga percaya, udah pernah ada sejak jaman Mbak Tutut dengan Citra Lamtorogungnya mengusulkan untuk membuat jalan khusus bis sepanjang Sudirman-Thamrin. Bedanya sedikit tapi bermakna – yang mau dibikin Mbak Tutut, buswaynya pada jalan layang. Jadi mikir kan, jaman dulu udah ada rencana-rencana apa lagi yang batal, padahal tepat guna…Fast forward to 2 years ago. Para pecinta lingkungan pada protes karena kabarnya busway akan menggangu jalur hijau sepanjang Sudirman – Thamrin. Kecele ga ya pas mereka akhirnya liat, jalur hijaunya hanya berkurang bidang rumputnya; pohon-pohonnya masih tuh. Paling dipotongin biar ga kena bisnya, itu juga wajar lah, karena pohon kan emang perlu dicukur secara berkala. Dan gue kecele juga – yang tadinya gue berpikir bahwa busway begitu jenius, dan merupakan langkah pertama dalam mengajarkan masyarakan Jakarta cara berkendaraan umum yang lebih, um, beradab… dibunuh dengan sukses dengan satu fakta: bis-bis merah oranye tersebut hanya punya satu pintu untuk keluar masuk pada tiap halte. Beneran, gue kira sistemnya ada satu pintu buat masuk, satu pintu buat keluar… dan liat kan sekarang kayak apa? Pada jam-jam berangkat dan pulang, naik busway itu kombinasi lomba dorong-dorongan sama lomba tetris menggunakan manusia. Jangan lupa lomba pura-pura ngantuk jadi nggak usah ngasi tempat duduk ke ibu-ibu tua, ibu hamil atau orang cacat. Ada juga lomba mempertahankan posisi dekat pintu masuk, supaya nanti keluarnya enak, walaupun dia naik di Kota dan turun di Blok M. Yang penting keluarnya cepet, bodo amat orang lain susah masuk bis. Atau itu lomba lain, lomba menghalangi orang macam galasin.Di sisi lain, gue pernah juga sok-sokan gentleman dan ngasih tempat duduk gue ke orang lain, yang ada orangnya ga mau. Atau gue dipelototin orang sebis, kesannya kelakuan gue aneh banget, niru-niruin adegan serupa di sebuah iklan rokok. Dan gue sering juga sok tertib dan masuk ke dalam bis padahal pemberhentian gue cuma 2 halte lagi; yang ada gue susah keluar (dan pernah kelewatan halte) gara-gara terhalang orang-orang berlomba tadi.Yang paling lucu dan aneh adalah, orang-orang berlomba ini, yang ingin cepat masuk maupun keluar bis, sampai potong-potong barisan, begitu keluar bis, jalannya pelaaaaan banget. Padahal susah buat menyalip pada jembatan busway yang sempit itu. Hhhhh rasanya pengen loncat kodok pake kepalanya.So what’s your story?

Tags: , ,

About barijoe

Failed Musician, Reformed Gadget Freak and Eating Extraordinaire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: