#IndonesiaUnite, Kenapa Nasionalisme, Kenapa Sekarang?

Untuk beberapa kalangan, terutama di kalangan pengguna Twitter di Indonesia (dan terutama di Jakarta), gaung #indonesiaunite masih sangat terasa, dan bahkan sudah membuahkan berbagai kegiatan dan berpuncak pada pendeklarasian Amanat Bersama tanggal 16 Agustus kemarin. Kalau mau baca lebih rinci sih, lebih baik ke website indonesiaunite.com karena sudah cukup jelas.

Gerakan ini berpegang pada prinsip bahwa #indonesiaunite ‘hanya’ sebuah semangat, dan tidak akan diformalkan ke dalam sebuah organisasi atau struktur lain. Hal ini pernah juga saya bahas pada blog posting ini beberapa minggu lalu, yang pada intinya menekankan kekuatan #indonesiaunite terletak justru pada sifatnya yang crowdsourcing (belum ada padanan Bahasa Indonesianya nih) dan menyebar secara viral. Untuk yang memperhatikan, sangat terlihat bagaimana semangat #indonesiaunite menyebar secara viral ke berbagai kalangan.

Tapi masih banyak juga kalangan masyarakat yang tidak tahu-menahu mengenai gerakan ini, berhubung informasi mengenai #indonesiaunite praktis lebih banyak menyebar pada kalangan pengguna internet, yang notabene masih relatif belum banyak di Indonesia. Banyak juga kalangan yang tidak peduli karena lebih peduli ke hal lain, apapun itu. Ada juga pihak-pihak yang skeptis, mengatakan bahwa gerakan ini omong kosong belaka, atau mempertanyakan kenapa baru nasionalis setelah ada serangan bom. Bentuk nyatanya apa? tanya mereka.

Adapun kalangan yang baru belakangan tahu mengenai #indonesiaunite, dan pertanyaan mereka pertama adalah “siapa sih yang bikin?” yang agak sulit dijelaskan tanpa menjelaskan Twitter itu apa, ha ha. Pada awalnya pihak media pun masih salah kaprah dengan menilai bahwa #indonesiaunite adalah gagasan satu atau beberapa orang, bukan secara crowdsourcing (yang memang relatif baru di Indonesia). Tapi mudah-mudahan fakta penting mengenai #indonesiaunite ini akan menyebar seiring meningkatnya pemahaman orang mengenai media sosial seperti Twitter dan Facebook.

Nah, saya ingin mencoba memahami sekaligus menawarkan jawaban untuk kalangan-kalangan yang saya sebut di atas.

Generasi saya besar di masa Orde Baru, yang notabene penuh dengan doktrin-doktrin PMP dan P4 dan GBHN dan mahluk-mahluk singkatan hapalan lain, yang seolah disuntikkan ke dalam kepala kita sejak SD. Karena memang pola pendidikannya doktrin, bukan pemahaman, jadi banyak dari kita seolah menolak pendidikan ini. Masuk kuping kiri, keluar kuping kanan, yang mungkin berlaku untuk hampir semua mata pelajaran lain selama SD sampai SMA. Kuncinya di sini: karena PMP dan P4 esensinya sangat kuat pada cinta bangsa dan negara, jadi ada bagian dari kita seolah-olah menolak untuk merasakan hal ini. Efeknya? Kalau ada orang yang beneran cinta bangsa dan negara, dianggap aneh. Ada juga hal lain yang penting dalam P4 yang seperti ‘ditolak’ oleh kita: menghargai hasil karya orang lain.

Padahal sebenarnya, rakyat kita cinta bangsa dan negara kok. Tapi terkadang malu mengungkapkan, kecuali dalam perayaan 17 Agustus, dalam bentuk menjadi panitia atau semacamnya – atau hal-hal kecil lain. Begitu ada yang bicara soal negara, otomatis dianggap mau berpolitik, baik itu di masa Orde Baru maupun setelahnya. Hampir-hampir, kita sampai pada sebuah situasi di mana orang yang terlihat cinta bangsa dan negara hanya para politikus (yang mungkin saja lebih cinta kepentingan kelompoknya), dan para atlit nasional dan daerah (pahlawan modern tanpa tanda jasa).

Susahnya lagi, perseteruan tingkat atas politik dan pemerintahan soal negara membuat makin banyak orang kehilangan kepercayaan terhadap negara, terlebih lagi dengan adanya stigma bahwa pemerintah tidak melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik (yang mungkin adalah pendapat subyektif, karena terkadang yang kita lihat hanya jeleknya saja).

Lagi-lagi, tetap saja, rakyat Indonesia cinta bangsa kok. Negara mungkin nomer dua. Cuma karena masih ada persepsi bahwa membicarakan bangsa atau negara adalah hal yang sama, lantas pembicaraan nasionalis cenderung terbungkam, terutama dengan naiknya konteks-konteks berbau agama dalam wacana pemikiran nasional. Ini adalah strike three, kalau meminjam istilah baseball – nasionalis dianggap sekular, yang dalam persepsi banyak orang Indonesia, berarti tidak beragama (padahal berarti pemisahan urusan negara dan agama belaka). Padahal, sebagai negara yang 99,99% penduduknya memeluk agama, kita tetap bisa nasionalis tanpa melupakan agama.

Terkena tiga kali sekalipun, rakyat kita masih ada yang berjiwa nasionalis – pahlawan tanpa tanda jasa yang lain adalah generasi entrepreneur – apapun bidangnya – yang dengan caranya sendiri memajukan Indonesia, langkah demi langkah.

Serangan bom demi serangan bom terjadi di Indonesia, yang membuat banyak rakyat bingung dan marah. Ya, betul, pada tiap serangan bom yang sebelum 17 Juli 2009, rakyat Indonesia bingung dan marah, hanya saja energi kemarahan itu seperti ditelan masing-masing, hanya terungkap lewat berbagai tulisan dan karya, yang tidak terhubung.

Bedanya dengan kejadian tahun ini? 4 tahun lalu, Twitter bahkan belum ada. Belum ada istilah Social Media, dan orang masih sibuk mengumpulkan testimonial Friendster. Di tahun 2009, media Twitter menjadi penghubung berbagai orang dari berbagai kalangan yang mengungkapkan kekecewaan dan kemarahan atas serangan 17 Juli 2009. Dan dari media ini, muncul semangat bersama-sama untuk menjadikan Indonesia lebih baik – dan menyatakan Tidak Takut pada aksi terorisme – dalam bentuk #indonesiaunite.

Jadi jawaban judul artikel ini, kenapa nasionalisme, kenapa sekarang apa? Jawabannya adalah: nasionalisme sudah ada dari dulu, tapi tidak bisa keluar. Karena terpancing kemarahan, semangat melawan terorisme dan semangat membuat Indonesia lebih baik, para pengguna Twitter ini menemukan bahwa ternyata banyak yang memiliki semangat yang sama, sehingga lahirlah #indonesiaunite.

Dan timbullah sesuatu yang mungkin sangat unik di Indonesia, mungkin di dunia – sebuah semangat tanpa organisasi, yang bebas diterjemahkan oleh para pendukungnya sejauh sesuai semangat yang sudah dituangkan dalam Amanat Bersama. Semangat yang sengaja tanpa organisasi supaya dapat inklusif ke berbagai pihak, dan sebuah gerakan yang relatif tanpa pemimpin dan tokoh supaya dapat melintasi batas-batas idealisme dan ego masing-masing orang.

Jadi untuk yang belum tahu soal #indonesiaunite, mungkin tidak terlalu penting untuk tahu, sejauh semangatnya sama.
Untuk yang tidak peduli, sekarang saatnya untuk peduli! Masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh pemerintah. Kita yang menentukan.
Untuk yang skeptis, jangan malu untuk merasakan cinta bangsa dan negara.
Dan untuk yang masih belum sepenuhnya memahami esensi #indonesiaunite, mudah-mudahan artikel ini bisa membantu. Untuk “ikut” #indonesiaunite, tidak perlu daftar apa, ke sekretariat apa, atau apapun yang lain. Tinggal berkarya untuk Indonesia.

Selamat berjuang!

About barijoe

Failed Musician, Reformed Gadget Freak and Eating Extraordinaire.

14 responses to “#IndonesiaUnite, Kenapa Nasionalisme, Kenapa Sekarang?”

  1. Nindya says :

    KEREEEEENNNN! Thank you mas, for saying things out loud. Apalagi yang ngejelasin soal nasionalisme dan kesan ‘sok’ nasionalis. Thanks for making things straight and clear.

    Thank you🙂

  2. Sekar ayu says :

    Wow… Its clear. Some of them (the people that arogant🙂 ) should read it. Mereka sbnernya bukan arogant ato apalah namanya, tapi mereka gak faham. Buat aq ini jelas bgt mas, semoga walopun smngat nasinalisme yg kita punya dari dulu baru bsa dicambuk pake bom🙂 tapi, mnimal ini sudah menunjukan pergerakan yg hebat oleh kita semua.

    Semoga gerakan kita ini gak cuma euphoria sesaat, tapi grakan untuk selamanya🙂

  3. Bapa Jalu says :

    Capek Yo ngeliat orang2 yang nasionalismenya musiman (gue harap lo gak kayak gitu …) 8 taun gua jadi atlit ngeluarin duit sendiri untuk semua kebutuhan, berjuang bawa negara supaya bisa eksis di luaran, untuk itu gua keluar duit buat makanan sehat, multi vitamin, training shoes, bensin buat ketempat latihan (2 kalis sehari) belum lagi masa remaja yang dikorbankan untuk latihan, (org lain malem mingguan gua mah latihan!), walaupun pada ahirnya dibiayai negara, does any body cares for what I & my colleague Did? kagak tuh!

    7 taun gue rela digaji dibawah UMR untuk ngajarin adik-adik, memajukan sekolah, bantuin research-research, dll… apa ada yg mengapresiasi??? Kagak Bo!

    Yang di apresiasi tuh yang koar-koar doang, yang bisa nyanyi, yang bisa tampil di panggung, dan itu yang membuat kami-kami ini “cape Hate”…. dan ahirnya mikir….

    Mending sekarang gue mikirin diri sendiri & keluarga aja deh… toh anak gua juga berhak untuk hidup senang…

    Tong Rea Huntu lah reakeun Gadag, mun euweuh guam mah ngajedog we…..

    • barijoe says :

      sangat wajar kok lu berpendapat seperti itu, tapi at least untuk gue sendiri, gue bisa bilang gue bukan nasionalis musiman – mungkin berkarya dan berkorbannya belum sebanyak lu aja sih. Tapi kuncinya itu, orang kan berkiprah caranya berbeda-beda, ada yang jadi atlit, ada yang nyanyi dan tampil di panggung… ya balik ke potensi masing2 lah. Dan kalau ternyata kalangan yang ‘dekat dengan panggung’ (baca: seleb, media) mendapat perhatian lebih? Ya itu karena memang lingkungan mereka di situ. Dan mereka memenuhi fungsinya untuk menyebarkan pesan.

      #indonesiaunite or not, kita yang punya minat dan potensi di bidang lain harus membawa semangat itu makin jauh. Awareness sudah tercapai. Tapi apakah itu jadi karya nyata, justru tergantung ke bidang karya kita masing-masing. Kalau seolah-olah kalangan “itu” mendapat sorotan dan apresiasi soal nasionalisme, ya tergantung kita sendiri, apakah penting atau tidak mempermasalahkan itu. Jawaban gue? Ya terus berkarya aja. Makin banyak yang berkarya, makin baik negeri kita, terlepas dari siapa yang tampil di TV.

      Setuju, pikirin diri sendiri dan keluarga aja dulu, kan itu unit terkecil dari sebuah negara🙂 yg penting kita bisa ngajarin anak2 kita untuk cinta bangsa dan negara juga. ituuu aja dulu. Dukung industri lokal,

      inti argumen gue ini: negara (baca: pemerintahan) itu pasti sibuk sendiri ngurusin entah apa yang tidak terlihat oleh kita, jadi mungkin nggak terasa mereka berbuat apa untuk kita, boro2 apresiasi ke karya kita. Justru kita sebagai rakyat yang harus terus berkarya, karena masa depan kita tidak melulu tergantung negara, toh?

      lagian, hanya waktu yang bisa menjawab ini menjadi sesuatu yang musiman ato nggak. Kita lihat saja🙂

  4. Sigit says :

    Tulisan yang bagus mas Barijoe!

    Mungkin sebelum ada salah sangka terhadap mereka yang skeptis:

    1. Bukan berarti kalau tidak mendukung #indonesiaunite, berarti mereka tidak memiliki rasa cinta atau dukungan terhadap gerakan nasionalisme, dan tidak membatasi semangat nasionalisme di bawah payung #indonesiaunite (atau menggunakan nama itu, walaupun istilah ini sedang populer).
    2. Kalau “pendukung” #indonesiaunite merasa “terserang” oleh komentar para skeptis, bukankah itu membuat mereka merasa memiliki #indonesiaunite secara eksklusif? Padahal semangat ini bukan miliki eksklusif siapapun kan ya?
    3. Twitter is a massive agent of change, propaganda-wise. Tapi ia juga punya komunitas yang terbatas.
    4. Semangat #indonesiaunite bukannya harus mempersatukan semua pendapat? Selama ini kritik-kritik para skeptis-lah yang turut membantu mendorong dan membakar semangat, berarti mereka sesungguhnya peduli.

    Hanya sedikit dari saya, yang belum melakukan apa-apa😦

    • barijoe says :

      setuju banget tambahannya Oom. dengan atau tanpa embel2 #indonesiaunite, kita harus tetap berkarya. Kalau ada yang skeptis tapi sebenarnya sudah berkarya jauh sebelum ada gaung #indonesiaunite, gue justru respek (seperti Pak Jalu yg sudah berbaik hati berkomentar). Kalo ada yang skeptis tapi sebenernya ga peduli dan nggak melakukan apa2, naahhh…. mudah2an tergerak.

      Git, karya kita adalah paling tidak tulisan kita, yang mudah2an disebarluaskan supaya makin banyak orang membaca dan lebih mudah membentuk opini sendiri, karena opini yang baik adalah opini yang sudah memiliki semua informasi. Makanya gue sibuk nyebarin link tersebut.

      ayo, tulis lagi soal #indonesiaunite!

  5. Bapa Jalu says :

    Kamu pernah dibiayain negara (pas kuliah aja deh yg di itung) 8.5 juta per taun (kamu angkatan ’97 cuman bayar 750rb per semester kan?), kalo kamu kuliah 5 taun, kamu disubsidi 42.5 jt tuh…

    Sekarang saya tanya, kamu pernah buat apa buat negara ini selain yang berhubungan dengan “bidang mu”?

    Seberapa dalem sih nasionalisme mu? apa cuman di dunia maya aja yang bisa diliat semua org? atau dalam tiap langkahmu kah? Rela gak kamu gak sekaya temen2 mu hanya untuk mempertahankan nasionalisme mu? Rela gak kamu ngorbanin kehidupan sosial mu demi mengharumkan nama negara?

    Tau gak sih gimana nasib Atlit Gulat kita yg selalu dapet emas di Sea Games? Tiap mau menghadapi pertandingan, terutama internasional, dia bilang ke anak2 nya, “barudak, dua bulan ieu bapa kudu jaga kondisi, wayahna nya mareneh dahar jeung tahu hungkul heula….” (anak-anak, dua bulan ini bapa mesti jaga kondisi, prihatin dulu yah kalian makan cuman ama tahu doang…)

    Apa ada yang ambil peduli ama kondisi itu? ha ha ha ha… mendingan nonton video musik dari MTV sambil nongkrong di Starbucks ya????

    Apa ada yang tetep hormat sama Elias Pical setelah dia gak jadi juara? ketemu jg kyknya org2 cuman ngangkat alis doang… siapa elo?

    Tapi… kayak yg Bruce Willis bilang di Die Hard 4, jadi pahlawan tuh mesti siap menderita, siap sendiri, siap ditinggalin… lalu kenapa mau? Krn gak ada org lain yg mau!

    Sekali-kali… ambillah langkah kongkrit… jangan cuman koar2 di dunia maya… jangan cuman di atas panggung teriak aku cinta indonesia, mari bersatu dll… coba turun panggung… berbuat sesuatu yang membangun jauh dari sorotan media, dengan tulus, tanpa mesti di umbar… jangan kayak yg cari popularitas aja…. Yuk!

    Siap?

    • barijoe says :

      Saya siap kok, kalo temen2 yang lain ya biar jawab sendiri aja.

      Mungkin pertanyaan seberapa dalem rasa nasionalisme itu jangan ditanya, karena buat tiap orang, tingkatan dan perwujudannya pasti berbeda-beda, dan kalau kita bicara ini lebih lanjut, kok malah jadi saing2an ya? Tujuan artikel gue bukan itu – sebuah artikel dari seseorang yang bukan siapa2 di dunia maya, yang pasti tidak dikenal di media, yang paling artikel ini hanya dibaca 100an orang. Tujuan gue adalah mencoba memberi inspirasi ke orang untuk melakukan sesuatu – apapun itu. Kita pun harus bisa saling menghargai usaha, karya dan pengorbanan orang lain secara positif (makanya gue tekankan dalam artikel gue). Karena ada yang menjadi atlit, ada yang menjadi penulis, ada yang menjadi musisi, ada yang menjadi penyiar kondang; semuanya dengan pengorbanannya masing-masing. Yg pasti gue nggak bisa jadi atlit karena dari kecil ditolak melulu masuk tim kelas olahraga apapun (kegendutan). Lantas, gue harus melakukan apa? Ya, berkarya dengan cara lain.

      Bidang gue bukan menulis kok, tapi gue berkarya di sini, sekecil apapun dampaknya. Gue juga tidak berusaha membela kalangan ‘dekat dengan panggung’ atau ‘golongan Starbucks’ yang seolah-olah mencar popularitas, teriak2 di panggung, tapi ya apapun motif di balik apa yang mereka lakukan, paling tidak, karena #indonesiaunite, nasionalisme kembali ke permukaan sebagai topik pembicaraan. Langkah setelah itu? ya balik ke masing-masing lagi. Kasarnya, kalo kemarin2 seleb pada ngomongin diri sendiri, sekarang pada ngomongin #indonesiaunite, yang pastinya ada dampak ke masyarakat kita yang masih lebih banyak menerima informasi dari TV (baca: infotainment). Yg penting orang tau dulu, sadar dulu. Mau berkarya seperti apa, mau berkorban sejauh apa, ya balik ke masing-masing. Ini seperti di kerjaan gue: mendingan orang beli RBT Rp 3000 seminggu tapi ada 20 juta orang yang beli, daripada jual CD Rp 75.000 yang beli cuma 1000 orang. Masalah dia mau beli RBT lagi minggu berikutnya atau beli CD lagi, tergantung dia. Nett effect yang lebih besar yang mana? lagi-lagi, ini soal membangkitkan semangat dulu, bukan soal menguji kedalaman cinta bangsa dan negara.

      Semua orang punya cara berkarya masing-masing, Pak, dan belum tentu tau juga kan orang-orang yang ‘berkoar2 di panggung’ udah ngapain aja untuk Indonesia yang tidak mendapat sorotan publik. Simpul kata, kita saling menghargai saja dengan semangat nasionalis, dan melihat positifnya semangat #indonesiaunite. Dan terus berkarya.

  6. Lulla says :

    Sekarang saya tanya, kamu pernah buat apa buat negara ini selain yang berhubungan dengan “bidang mu”?

    ——> Bukannya lebih baik kita berbuat sesuatu di bidang yang benar2 kita kuasai? Ngapain juga Aryo maksain jadi atlet gulat?

  7. Widi Asmoro says :

    tulisannya bagus.. jadi inget.. friendster dah jarang di update nih.. update dulu ach

  8. Me' says :

    Tulisannya bageeeuss. Semoga gua ga hanya cukup bilang “bageeus’ doang. Tapi, juga ikut mengkomunikasikan ‘pesan’ ini ke at least lingkungan terdekat gua. Agak ga adil kalo bilang orang yang nasionalismenya bangkit (walopun hanya sesaat) itu ‘nista’. Buat gua lebih baik dari pada orang yang ga bangkit rasa nasionalismenya. Atau malah.. mati.
    Eh.. tapi bukan hak gua juga buat bilang orang orang yang skeptis, pesimis, arau ‘hilang’ nasionalismenya itu orang2 yang …apa? jahat? bodoh? egois? bukan.. bukan itu. Hak mereka. Mungkin sudah muak? mungkin sakit hati? mungkin punya pengalaman lebih daripada kita yang sampai saat ini masih merasa dibantu dan diuntungkan oleh negara ini. Hingga, kita , at least gua, merasa gua harus ‘berbuat’ sesuatu sekecil apapun, dalam bentuk apapun buat negara. Harus perang?? nggak. Harus jadi atlit nasional? nggak. Harus jadi murid perwakilan olimpiade fisika? Nggak juga. Nggak HARUS. Gua bersyukur, dikasih momen buat ‘bangkit’. Kalo nggak, gua akan sibuk dengan diri sendiri. Seperti bulan ramadhan, musiman kah kalo kita jadi banyak ibadah di bulan ramadhan doang? trus, kirim2 sms “maaf lahir batin” menjelang 1 Syawal. Atau.. kirim2 “selamat natal” itu juga momen.. atau say “i love you’ di hari Valentine ( suiiit..suiit..) . Buat gue..itu tergantung momen. Bersyukur gua dikasih momen. Syukur syukur lagi.. kalo momentumnya uda lewat..gue masih punya rasa nasionalisme di kadar ini, gue masih bisa minta maaf ke temen2 gua, atau gue masih bisa say i love you full ke suami gue.

    Hey..hey.. saatnya meng’infeksi’ yang hilang menjadi ada.. bukan meng’infeksi’ yang ada menjadi hilang.
    OH.. ketika seenggaknya orang mendengar, membaca dan melihat pesan ini (#indonesiaunite), hey! we did it. we got your attention.

    You heard about us ‘koar koar’ di stage?Bagusss..
    Ga perlu tanya, apa yang sudah orang2 itu ( yang koar koar ) telah kerjakan buat bangsa dan negara.
    you know what? maybe they did a lot!
    ga pernah denger? mungkin ga perlu gembor gembor apa yang uda mereka kerjain. ada yang jadi pengacara negara, ada yang aktif di yayasan anak, ada yang aktif mengembangkan budaya indonesia, ada yang aktif membangun mikrobisnis, ada yang punya kekuatan menghimpun massa dan media.
    Pernah denger? nggak? mereka berhenti aktif karena ga didenger? SYUKURnya tidak.

    Buat mas Bapak Jalu, terimakasih, telah berjuang dan menyumbang banyak dengan cara mas kepada negara di kala mungkin kita masih belajar baca, terimakasih🙂. Tenang, kami lanjutkan perjuanganmu..dengan cara kami.. Tenang mas, ga papa..silahkan beristirahat. Bersyukurlah..Indonesia punya semboyan “mati satu tumbuh seribu”. Mati satu rasa nasionalisme, akan tumbuh seribu rasa nasionalisme, SEKARANG!!

    ps: Joe, sorry, kalo panjang beuneuuurr ni..dan repost. agak error

  9. Rusa Bawean™ says :

    kami tidak takut!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: