Tabrakan

Selama sekitar 5 bulan tinggal di HCMC, gue sudah mengalami 3 kali kejadian tabrakan kendaraan bermotor, padahal bahkan gue di sini hanya mengendarai taksi atau ojek. Bandingkan dengan 7 tahun gue tinggal di Jakarta, alhamdulillah hanya pernah mengalami kejadian tabrakan 2 kali, itu pun hanya berakibat rusak sedikit pada mobil.

Gue mau cerita kejadian-kejadian tabrakannya.

Tabrakan pertama:

Di apartemen gue, ada pangkalan ojek langganan yang udah tau gue biasanya berangkat kantor ke mana, tanpa harus menjelaskan panjang lebar. Nah, dari beberapa ojek ini, ada satu orang, sebutlah namanya Si Ngaco, yang emang, ya ampun, ngaco banget bawa motornya.

Bayangin aja, di HCMC itu secara umum orang ngaco bawa motornya. Nggak kenal lampu merah, nerobos jalan satu arah, belok kiri kanan seenaknya, pindah-pindah jalur seenaknya… ya agak mirip dengan pengendara motor di Jakarta ya, tapi beneran deh, di sini lebih berantakan. Pengendara motor Jakarta masih relatif rapi dan disiplin. Nah, Si Ngaco ini, lebih ngaco dari rata-rata pengendara motor di HCMC. Salip kiri kanan seenaknya, nggak pake perhitungan, dan ngomelin semua orang di jalan yang menurut dia menghalangi rejekinya.

Suatu hari, gue pas dapet giliran Si Ngaco yang akan nganterin gue ke kantor, karena biasanya mereka bergilir, dan yang lagi dapet giliran, akan nunggu depan pintu masuk gedung apartemen di sebuah dingklik kecil dan menjerit “HELLO!” saat ‘jatah’nya keluar. Soalnya, yang naik ojek hampir selalu orang asing – penduduk lokal biasanya sudah memiliki motor sendiri. Jadi oke lah, gue berangkat sama Si Ngaco. Untungnya, rata-rata orang HCMC masih menaati batas kecepatan dalam kota, yaitu sekitar 40 km/jam.

Nah, Si Ngaco ini lagi mau nerobos lampu merah di perempatan untuk belok ke kiri, tapi udah ada beberapa mobil dan motor yang sudah berhenti di lampu merah tersebut. Karena emang nggak pake perhitungan, bertabrakanlah kita dengan salah satu motor itu. Mungkin nggak layak disebut tabrakan, lebih seperti serempetan slow motion sampai terhenti, dan karena hilang keseimbangan, sama-sama jatuh. Akibatnya lebih ke sebel ketimbang sakit. Si Ngaco kontan langsung ngomel-ngomelin motor yang dia tabrak, yang dikendarai oleh dua ibu-ibu tua. Guenya malah jadinya bantuin ibu-ibu tersebut merapikan barang bawaannya sebelum gue dianter sama Si Ngaco ke kantor, seolah-olah tidak teradi apa-apa.

Tabrakan Kedua:

Gue lagi naik taksi Mailinh (kayak Blue Bird atau Expressnya sini lah) yang Innova, bareng Saski, Sacha dan Moerat. Kita lagi menuju apartemen, dan lagi berhenti di lampu merah. Tiba-tiba, ada taksi lain menabrak dari belakang. Untungnya tidak begitu keras karena mungkin kecepatannya rendah, tapi cukup keras sehingga kepala Sacha terantuk pada bangku. Alhasil, kita turun di perempatan itu dan makan siang sekitar situ😀

Tabrakan Ketiga:

Kejadiannya kemarin malam. Gue sama Saski lagi menuju apartemen, naik taksi Vinasun yang Toyota Vios, dan udah tinggal melewati perempatan kecil terakhir. Sebenernya kita udah di tengah-tengah perempatan, pas gue lihat dari arah kiri ada seorang pengendara motor, mungkin agak mabuk, karena motornya belok-belok kiri kanan, relatif ngebut masuk perempatan tanpa lihat-lihat kiri kanan, sambil nelpon (masih mending, gue sangat sering liat pengendara motor di sini sambil ngeSMS, atau mempergunakan satu tangannya untuk membawa barang besar yang seharusnya bisa diiket aja di motor). Nah, di sini biasanya memang orang nggak terlalu lihat-lihat kalau masuk perempatan, biasanya masuk aja dulu, dan segala skill dan akrobat berkendara, pasti bisa menghindari semua kendaraan yang datang dari segala arah. Gue asumsikan pengendara motor itu juga akan berbuat sama.

Eh, nggak lho. Sesaat kita sudah melampau perempatan, ada suara tabrakan dan terseret-seret dari belakang – ternyata orang itu menabrak bagian belakang taksi. Pas gue udah turun, orangnya nggak papa, udah mulai ngomel-ngomel dan mau mukul si supir taksi. Ternyata ban depan motornya sampai nyangkut ke bemper belakang, dan ditarik-tarik dulu sampai lepas oleh si supir taksi sebelum dia mengantarkan kami ke apartemen (yang dari situ udah tinggal 20 meter lagi).

Jadi, kalau ngomel soal ngaconya pengendara mobil dan motor Jakarta, silakan ke HCMC dan bandingkan sendiri😀

About barijoe

Failed Musician, Reformed Gadget Freak and Eating Extraordinaire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: