Archive | April 2013

[Manic Monday] Pertemuan Musik, Kewirausahaan dan Teknologi

Hari Sabtu kemarin, tanggal 20 April 2013, saya dan beberapa teman-teman berkesempatan untuk membuat kumpul-kumpul kecil-kecilan untuk berdiskusi soal musik, kewirausahaan, dan teknologi. Pertemuan ini dimulai dari berkumpulnya beberapa orang dalam grup yang berjudul sama di Google+, yang dimoderatori oleh Robin Malau dan Widi Asmoro. Melihat ramainya diskusi di grup ini, dan begitu beragamnya topik yang sudah dibahas dalam umur grup yang masih dalam hitungan beberapa minggu, saya pun menawarkan untuk membuat pertemuan pertama grup ini di kantor Think Web, yang merupakan tempat kantornya Wooz.in juga. Terima kasih pada Ramya Prajna yang sudah menyediakan tempat dan peralatan audiovisual.

Yang hadir tak sampai 20 orang, tapi materi yang dibahas semuanya sangat menarik.

Baca detilnya di Dailysocial.

Advertisements

Youtube Wins [Again] Against Viacom – Stubborn, Much?

I was surprised that the case was still going on at all.

Instead of fighting Youtube for years on end, some of the major music labels created the VEVO platform which plays nice with Youtube (since it is powered by Youtube). Takedown notices on Youtube for unlicensed videos aside, VEVO has actually made money over the years, as compared to the years-long litigation between Viacom and Youtube which basically only made money for the lawyers.

Should Viacom have full control of content it produces? If possible, sure – it’s what they invested in, and they should be allowed to recoup their costs and make some profit. But at this point, I don’t see the point of continuing with such litigation, because it’s not like they’re going to get a grand payoff in the remote possibility the lawsuit somehow gets turned in Viacom’s favor, right?

The 99% Syndrome

Back in university, where I studied product design, one of our professors taught us about the 99% syndrome. In a nutshell, as we work to improve our product, we gain references or insights that may improve our product, and go back to work, trapped in an endless cycle of improvement where the product will ultimately never be finished.

The references or insights could be from reading, research or even input from other people, but it is a rare moment where all the references and insights that you have will all point to a common solution to which you can build and deem the product complete. Well, anything such as this would have to be so obvious as to have been made or invented already.

At some point we have to stop. At some point we have to make a judgment call and say “okay, I’ve analyzed enough data, I’ve done enough research, and I’ve arrived at the best solution based on the entire development process. Let’s wrap this up and give it a go.”

Worried about people turning away when they’re not happy with your product? Work on it and offer it again – people have a sufficiently short attention span today to get away with it. If you did your homework properly, the improvements will get you more customers.

We supposedly learn early in life that you really can’t make everybody happy; there is never a perfect solution that applies for everyone. There will always be that one guy in the group who prefers to go out for pizza rather than burgers. There will always be someone who says “meh” about your product. The trick is, make sure it’s nobody from your core target market. Because at the end of the day, a “meh” product that earns you $1 is still better than a never-finished product stuck in the 99% syndrome that costs you money.

[Manic Monday] Mencermati Kembali Royalti

Salah satu pilar utama dari industri-industri yang berbasis hak kekayaan intelektual, adalah royalti. Dalam definisi ini, royalti adalah nilai bagi hasil yang diterima oleh pemilik sebuah hak kekayaan intelektual  atau karya, atas penggunaan karya tersebut oleh orang lain; biasanya mengacu terhadap karya cipta lagu. Royalti ini pun dapat sebesar 0% atau 100%, tergantung perjanjian antara pemilik karya dan pihak yang mau mengeksploitasi. Pada intinya, setiap karyanya dipakai, baik itu diduplikasi, disiarkan ataupun digunakan dengan produk lain (yang dinamakan hak sinkronisasi, biasanya untuk iklan, soundtrack film, dan sebagainya), sang pemilik karya akan mendapat bagian, sesuai dengan kesepakatan.

Kata kuncinya, kesepakatan. Terdapat berbagai kesepakatan antara perwakilan pencipta lagu dan perusahaan rekaman mengenai penggunaan lagu untuk rekaman, dan proses pembayaran royalti dari perusahaan rekaman ke perwakilan pencipta lagu (yaitu penerbit musik atau publisher, yang bertindak sebagai semacam perwakilan bisnis/agen untuk komposer/pencipta lagu) adalah proses bisnis sehari-hari, dan nilai royaltinya pun ada kalanya disepakati pada tingkat industri, antar asosiasi perusahaan rekaman dan asosiasi penerbit musik, untuk periode tertentu. Kesepakatan tingkat industri ini gunanya untuk mengurangi proses negosiasi berulang setiap pembuatan album, dan berlaku untuk semua anggota para asosiasi.

baca penjelasan lanjutannya di Dailysocial.

Budaya “Melawan” dan Romantisme Era Perlawanan

Kenapa sih, orang Indonesia susah diatur? Seperti ada semacam kesadaran  kolektif untuk melawan aturan, melanggar lampu lalu lintas, dan menginjak rumput padahal jelas-jelas ada tanda dilarangnya? Seperti ada kecenderungan ‘melawan aparat kalau rame-rame’?

Padahal kan ya, nunggu bentar di lampu merah kan nggak papa (dan di beberapa lampu merah, ada indikator waktunya. Dan ternyata cuma nunggu 90 detik kan…). Berjalan berputar sedikit nggak soal toh, ga usah nginjek rumput. Nggak perlu nembus jalan lawan arah demi ‘biar cepet’. Polisi mungkin ada yang korup, tapi mas2 polisi yang ngatur lalu lintas sambil kepanasan karena harus pake seragam lengkap mbok ya dibantu juga biar pekerjaannya lebih ringan. Terus, kenapa kebanyakan dari kita nggak bisa gini sih?

Gue sendiri merasa dari kecil kita sudah disuap pelajaran sejarah soal perlawanan kita pada penjajah, pada “otoritas”. Buku sejarah bercerita soal pahlawan-pahlawan yang hebat dalam perlawanan mereka – memang tepat sih, mereka memang hebat. Tapi yang gue inget soal cerita dan isi buku sejarah itu adalah soal perlawanannya, bukan kenapa ada perlawanan. Kenapa ada perlawanan ya karena ada penjajah. Ada orang yang otoriter, sewenang-wenang sehingga perlu dilawan. Sesederhana itu. Ada sebuah romantisme yang dijual dalam perlawanan, terutama akhir-akhir ini dalam bentuk demo turun ke jalan. Pendemo turun ke jalan merasa melawan sesuatu dan sedang mengikuti langkah para pahlawan sebelumnya. Padahal kan… harusnya, intinya bukan perlawanan belaka.

Ya saat ini sih kita memang belum lepas dari “penjajah”, hanya saja sekarang yang menjajah kita adalah warga kita sendiri, melalui penguasaaan uang, modal dan infrastruktur. Kita diminta jadi konsumen yang patuh. Jadi warga negara patuh. Opresi militer sudah berganti jadi opresi ekonomi untuk sebagian besar warga Indonesia.

nah kayak gini sih emang harus dilawan, tapi emang harus segala hal dilawan? sampe rambu lalu lintas dilawan? 

Kenapa nggak kita inget bahwa pahlawan-pahlawan kita mengutamakan perjuangan, bukan perlawanan belaka? kalo kita mikir perlawanan doang sih, ya ampe sekarang penjajah masih ada kali. Perjuangan ada objektifnya – dulu ya kemerdekaan, dan sekarang adalah kemajuan kita sendiri sebagai warga maupun sebagai bangsa. Dalam perjuangan memang ada perlawanan terhadap sesuatu, tapi sepertinya hari ini lawannya adalah rasa iri dan dengki, rasa ketidaksabaran, dan sebagainya.

Diulang. Perjuangan ada objektif – dan perlawanan adalah salah satu strateginya. Alatnya. Kalau perjuangan nggak perlu perlawanan, tapi butuh diplomasi atau akal sehat, ya kenapa harus perang? Kalau jalanan macet akan sedikit lebih lancar kalau semua sabar dan cermat menempatkan diri dalam lajur jalan yang tepat, kenapa harus ada serobot jalur, bunyi-bunyi klakson dan sirene palsu nggak penting? Kan objektif bersamanya sampai di rumah secepatnya. Di badan jalan yang macet, lebih mudah kalau kita berjuang bersama toh, ketimbang melawan semua mobil yang ada di jalan?

emang jauh banget hubungannya antara perilaku di jalan dengan sanubari bangsa. tapi, hal besar mulai dari hal kecil toh… kalau hal seremeh temeh perilaku di jalan raya aja kita nggak bisa disiplin dan memperjuangkan yang benar, gimana hal lain? 

Iya, pemerintah buruk, polisi buruk, DPR buruk, dan lain-lain. Tidak adil kalau ngomong itu secara umum, pastinya ada yang baik dalam lembaga-lembaga itu (sayangnya minoritas sepertinya), tapi masa karena orang lain buruk, kita harus ikutan buruk? mentang-mentang yang lain ngelawan arah di jalan, kita harus ikutan juga? 

Berjuanglah. ini perjuangannya. Mulai tertib. Berhenti melawan, dan mulai berjuang.

Tertanda,
Yang diklaksonin dan dipelototin semua orang kalau berhenti di tikungan berlampu merah, karena menurut mereka belok kiri boleh langsung.

[Manic Monday] Industri Musik “Baru” Membutuhkan Anda!

Minggu lalu saya berkesempatan untuk mengikuti workshop Lean Startup Machine di Singapura, bersama dengan rekan kontributor Dondi Hananto, yang sudah menuangkan pengalaman dia di workshop tersebut. Singkat kata, workshop tersebut merupakan pengalaman yang cukup berharga, yang saya rekomendasikan pada siapapun yang sedang ingin membangun startup sendiri, ingin mempelajari “cara cepat” untuk customer development, atau ingin mendapatkan perspektif lain mengenai membangun bisnis. Tentunya, metode LSM ini hanyalah satu pendekatan yang bisa diambil untuk membangun sebuah bisnis. Tapi saya harap, buat yang ingin terjun ke dunia startup, pikirkan bahwa yang dibangun adalah sebuah bisnis, bukan hanya sebuah program atau aplikasi.

Dalam tiga hari itu, semua peserta dibagi-bagi dalam kelompok dan diminta membuat sebuah konsep bisnis yang sudah memiliki potensi pelanggan, dan mengerucutkan konsep bisnisnya pada pelanggan-pelanggan potensial tersebut. Apakah bisnis yang diajukan menyelesaikan sebuah masalah? Apakah ada calon pelanggan yang bersedia membayar untuk solusi/layanan yang diajukan? Workshop ini bahkan tidak membahas sedikitpun soal programming, manajemen, atau keuangan – intinya adalah, memvalidasi asumsi bahwa konsep bisnis yang diajukan memiliki potensi pelanggan yang bersedia menggunakan layanan/solusi tersebut.

Baca selanjutnya di Dailysocial.