Archive | October 2013

[Manic Monday] Menyokong Pencipta Lagu Dan Penerbit Musik Dengan Teknologi

Salah satu bagian terpenting – dan seringkali tak diketahui umum – dari industri musik adalah pencipta lagu dan penerbit musik. Yang seringkali tampak di layar kaca maupun konser-konser besar adalah para musisi dan artis, padahal sebenarnya belum tentu lagu yang mereka nyanyikan adalah ciptaan mereka. Memang banyak juga artis dan musisi menulis lagu-lagunya sendiri, tapi banyak juga yang menuliskan lagu untuk orang lain, fokus untuk menciptakan lagu saja dan bukan untuk menjadi entertainer. Ada pula, anggota sebuah band yang piawai menciptakan lagu, sehingga ia menciptakan lagu untuk dinyanyikan orang lain juga.

Menjadi pencipta lagu, atau komposer, itu sudah menjadi profesi, yang kalau dirunut sejarah sudah ada dari jaman klasik. Walaupun beberapa kalangan mungkin membedakan istilah ‘pencipta lagu’ dan ‘komposer’, esensinya sama, bahwa mereka menggubah kumpulan nada-nada menjadi sebuah bentuk ekspresi, terkadang dengan lirik lagunya juga (walaupun kadang penulis lirik lagu itu berbeda dengan pencipta lagunya). Dan seiring jalannya waktu, makin banyaknya pencipta lagu menjadikan perlunya ada pihak yang dapat mewakili, paling tidak untuk manajemen bisnisnya. Dibentuklah profesi dan organisasi yang sekarang kita kenal sebagai penerbit musik (publisher).

Baca selanjutnya di Dailysocial.

English version here.

Advertisements

Selamat Tinggal, Blackberry

blackberryprices

Dari foto yang gue unggah, harusnya udah cukup jelas. Kalau flagship device bisa sampe didiskon 2 juta – di situs Bhinneka yang harganya cenderung lebih mahal dari situs e-commerce lain – pastinya minat sudah sangat turun.

Bandingkan dengan harga Q5 baru di Lazada. Kok sama ya harganya.

Dua hari lalu gue menghentikan langganan layanan BB di HP Blackberry bokap gue, karena toh dia uda nggak pake email, nggak pake BBM dan hanya terkadang pake Whatsapp. Buat apa jadinya keluar uang RP 100 ribu/bulan? Jadinya gue ganti ke langganan paket data biasa aja, ada yang Rp 25 ribu/bulan, dengan menyalakan setting APN koneksi data biasa (asal BBnya unlock, harusnya bisa, tinggal masukin setting APNnya sesuai operator).

Pasti nggak cuma gue doang yang menghentikan layanan BB. Pasti banyak juga yang akhirnya melepaskan BBnya untuk diganti dengan iPhone atau Android. Keunggulan layanan BB yang kita rasakan 5 tahun lalu, sudah tidak unggul lagi, dan jadi malah mahal, dengan handphone yang praktis ketinggalan jaman juga.

Lantas siapa yang rela mengganti BB lamanya dengan BB10 terbaru? Yang pasti tidak banyak. Karena kalau sekilas lihat orang sekitar di food court mall, pengguna BB – yang bisa dibilang adalah kelas menengah ngehe yang emang kerjaannya ke mall, termasuk gue – kalau bukan masih menggunakan BB lama (dan biasanya nunggu rusak, baru diganti), sudah beralih ke smartphone lain.

Kasian ya Blackberry.

[Manic Monday] Teknologi Di Balik Lomba Lari

Belakangan ini, Indonesia seperti diserbu oleh tren lari. Lari seolah-olah menjadi ‘hal baru untuk keren’ yang diikuti, meski juga tidak sedikit yang sebenarnya senang akan olahraga ini, dan pastinya tren ini dampaknya jauh lebih bagus ke masyarakat secara umum ketimbang tren, misalnya, makan di restoran cepat saji atau menghabiskan waktu di waralaba 24 jam serba ada, karena tren ini mengadvokasi hidup sehat.

Berbagai komunitas, program dan perlombaan dalam setahun terakhir sudah mulai digelar seputar lari, dan adanya berbagai perlombaan lari ini sudah lebih menjadi sorotan masyarakat. Para pemilik brand berlomba-lomba untuk berinteraksi dengan para pelari ini, untuk mempromosikan minuman energi atau isotonik terbaru, peralatan olahraga terbaru, atau berupaya mengasosiasikanbrandnya dengan cara hidup sehat.

Baca selanjutnya di Dailysocial.

English version here.