Pilih Sendiri Petualangan [Musik]mu

(ini adalah repost dari artikel yang pernah naik di aldosianturi.com, taun 2011 silam, yang mungkin masih relevan).

Saya (ceritanya) anggota band. Sebuah band yang berkat bantuan si Aldo ini, sempet manggung di sebuah acara musik rock internasional yang berlangsung di Jakarta. Band ini juga yang cuma punya sederet kecil prestasi, yang tidak termasuk pernah rilis album. Kenapa? File-file masternya hilang. Klasiklah, masalah-masalahnya.

Konon sih band ini udah malang melintang dari jaman Poster Cafe, ikut festival dan pensi sana-sini, dan seperti banyak band lainnya sempat vakum, gonta-ganti personil. Pernah juga lagunya tembus ke no.1 chart indie sebuah radio Jakarta, dan lagu lain malah nyaris masuk ke kompilasi dari radio tersebut. Yah, banyak nyaris-nyarisnya lah.

Kalau melihat dari sisi profesional gue, yang pernah jadi anak major label, materinya bagus kok. Gak boong. Cuma gak mainstream aja. Dan menurut gue, kalau diaransir sedikit lain dan dinyanyikan orang lain, mungkin bisa jadi lagu pop yang bagus. Nggak akan pernah tau, karena nggak pernah dikerjain.

Band kita juga mengalami hal yang mungkin relatif umum juga – semua anggotanya kerja, jadwal selalu bentrok untuk latihan, gak punya manajer yang handal. Sempet punya manajer sih tapi entah kenapa dia selalu gonta-ganti nomer HP (agak fatal ya kalau untuk seorang manajer band). Dan kalau latihan, vokalisnya lebih seneng bikin lagu baru, karena dia selalu lupa lirik-lirik lagu lamanya.

Intinya adalah, I’ve been there. Dalam mengalami proses rilisan album di major label sampai menjalani nasib sebagai band indie kurang terkenal, banyak banget yang gue liat dan gue rasakan. Dan ngeliat pergeseran-pergeseran yang udah terjadi di industri musik secara global dan di Indonesia, ada beberapa kesimpulan yang menurut gue penting untuk dibaca siapapun yang hendak bermusik atau bekerja di dalam industrinya.

Satu hal paling utama: kita mau ngapain sih bikin lagu, dan ngeband? Seneng main gitar? Banci tampil? Butuh tempat curhat atau malah butuh eksistensi? Nggak ada jawaban yang salah kok, selama kita jujur sama diri sendiri. Seperti halnya banyak hal dalam hidup, perlu tau maunya apa. Jangan labil, karena orang labil biasanya dimanfaatin, toh. Jawabannya bisa semudah – gue punya lagu, dan gue pengen temen-temen gue/orang lain dengerin. Dan kalau suatu saat tujuan lu bermusik berubah, nggak papa juga, asal tau bener alasannya. Dan otomatis, kalau bermusiknya dalam band, berarti tujuan itu harus terjadi atas kesepakatan sama-sama. Ntar kalo nggak ada kesepakatan, bisa-bisa bubar bandnya. Kan nggak lucu, baru mau promo album baru, eh bubar.

Nah… kalau udah tau dan yakin tujuan bermusiknya apa… baru nih cari tau lebih banyak soal ‘mainan-mainan’ yang ada di luar sana. Bisa lebih ketauan apa yang jadi prioritas; misalnya: gue sadar lagu-lagu band gue bukan yang umumnya diterima “pasar” (baca: banyak orang yang akan berminat membeli), jadi kita tidak menaruh kesuksesan komersial sebagai tujuan utama. Malah, pas sang vokalis berisik soal pengen rekaman bikin album, gue bilang, buat apa? Emang nanti albumnya mau diapain? Karena sebuah album, berisi beberapa lagu, kan butuh duit bikinnya. Kalau emang mau niat ngeluarin duit untuk rekaman tapi nggak perlu dirilis sebagai sesuatu yang dijual toh? Asal emang tau maunya apa.

Ada juga band-band yang memang udah dari awal pengen coba cari pendengar atau penggemar lebih banyak. Biasanya nanti band-band ini akan berupaya sedemikian rupa untuk menghasilkan lagu-lagu yang mudah ditelan oleh kebanyakan orang; cari musik yang ‘aman’ dicerna banyak pihak. Nggak gampang juga lho kalau ambil jalan seperti ini, karena berarti harus mencari kesepakatan lebih banyak lagi; bukan saja sama band sendiri, tapi sepakat dengan berbagai ahli ‘musik mainstream’ yang biasanya akan membantu pembuatan album tersebut. Dan harus mencoba mencari ‘kesepakatan’ dengan sejarah musik, dan selera pasar.

Perkembangan digital belakangan ini memberikan pilihan dan kesempatan sangat banyak buat yang ingin berkecimpung di musik. Cuma ya gitu, balik lagi ke tujuannya apa. Kalau udah tau jelas, nanti juga lebih jelas kok harus ngapain, dengan semua fasilitas yang bisa diberikan ke pemusik (baik yang gratis, atau harus melalui “investor” seperti label rekaman) untuk mencapai tujuan itu. Contoh: bandingkan sebuah band yang sama sekali nggak main lagu mainstream, tapi hidup dari merchandise dan berbagai bisnis lain untuk membiayai bandnya lagi; dengan band komersil yang bahkan hasil akhir rekamannya ditaruh di keputusan kepala label rekaman.

Nah, biar bisa lebih awal nentuin dengan pasti tujuan bermusiknya apa, ya perlu belajar, riset dan kerja keras. Band-band yang terkenal dengan caranya sendiri, ya karena kerja keras seseorang, bisa bandnya sendiri, bisa support structure yang menaunginya (misalnya dari manajemen atau label rekamannya). Udah nggak jamannya lagi band atau musisi cuma tau main musik doang, lain-lainnya nggak ngerti. Kalau nggak ngerti apa-apa, ntar gampang ditipu loh.

Mau dipake atau nggak ilmunya, semua musisi udah harus bisa berpikir bisnis. Karya musik itu seni, tapi emang bikinnya nggak pake makan? Nah, beli makannya gimana? Mau kerja yang lain sambil ngeband, bisa. Tapi berarti harus siap ngorbanin waktu untuk kerja dan nggak bisa ngeband ya. Mau full di musik, bisa. Tapi harus mikirin bahwa bandnya bisa jadi “perusahaan” yang menghasilkan uang demi tujuan band tersebut. Dan nggak usah sok-sokan anti major label dan sebagainya; karena mereka ya mikirinnya bisnis, kita juga harus mikir bisnis dong. Gue untung apa kalo sign sama label ini? Dia dapet untung apa, dan bantuin gue apa? Kalau dilihat dengan cermat, major label ya cuma salah satu pilihan aja yang bisa diambil musisi/band untuk berkarir. Dan seperti hal lain dalam hidup, hubungan bisnis itu akan berlangsung lama selama kedua belah pihak sama-sama senang dan tau posisi masing-masing. Tapi, major label udah bukan jadi kewajiban kok – tapi jadi pilihan. Nggak harus lewat major label supaya bandnya terkenal, walaupun emang lebih mungkin terjadi karena orang-orang major label itu lebih berpengalaman bikin lagu dan artis terkenal, dan udah punya jaringan ke mana-mana. Sebagai contoh, di Vietnam, tempat tinggal gue sekarang, bisa dibilang nggak ada namanya label. Artis yang bagus ya akan bergabung ke manajemen artis, dan manajemen artis itu akan mengatur semua lini bisnis, dari show, bintang iklan sampai produksi CD sendiri.

Jadi harus belajar bener-bener tuh, social network kayak Facebook dan Twitter bisa dipake gimana untuk tujuan bermusik lu. Sistem distribusi musik apa yang paling cocok – mau sebar MP3 gratis lewat website resmi band, atau masukin ke online music store yang berbayar? Apa yang lebih gampang dikerjain sendiri, dan apa yang ternyata harus butuh dukungan sebuah label rekaman?

Pelukis aja, yang bisa dibilang secara murni mengeluarkan ekspresinya di kanvas tanpa gangguan dari kepentingan berbagai pihak, harus mikirin bahwa skillnya harus menonjol dan berbeda, dan dia harus mengupayakan banyak orang tau karyanya lewat berbagai pameran; siapa tau nanti ada kolektor yang beli. Musik ya gitu juga. Dan pilihan untuk bikin sesuatu yang diterima orang banyak dan dijual kayak kacang, atau bikin mahakarya seperti lukisan yang akhirnya nilainya mahal… ya itu balik lagi ke tujuan lu apa.

Jadi, jangan puas dulu sama musik lu, sebelum lu tau pengen lu apain. Itu kan musik lu, jangan disia-siakan karyanya. Kalo emang buat ngasih kesan baik buat gebetan, ya boleh aja! Dan kalo emang pengen cari duit dari musik, ya cari tau cara yang paling cocok yang mana… atau ya bisa juga, kerja sama ama orang yang udah lebih ngerti dan lu bisa percaya. Cie, gantung kan jadinya? Ujung-ujungnya balik ke diri sendiri juga… ya pikirin dong! Pasti bisa! Pasti ketemu caranya yang paling cocok. Kalo bingung kan bisa nanya ke yang udah lebih ngerti tadi.

Gue cuma wanti-wanti aja nih; banyak artis dan band pengen masuk ke industri musik, cari uang atau cari terkenal, cuma belom tau secara mendalam. Sekarang informasi apa aja bisa mudah didapatkan di internet, dan kalo mentok ya nanya orang (masalah pertanyaan lu dijawab atau nggak ya urusan lain). Kalo bingung dan lebih pengen fokus di bikin lagu dan main musiknya, carilah orang yang lu percaya untuk jadi manajer band lu, nanti dia yang cari informasinya. Musiknya kan karya lu, jadi lu yang harus kontrol nasibnya. Kalo nasibnya perlu campur tangan orang lain biar lebih besar, kan tetep keputusan lu – dan bukan orang lain.

Harusnya sih gue nulis soal bisnis musik, tapi kalau dari sisi artis/band, menurut gue, harus mulai dengan awal yang bener dulu. Soalnya, misalnya, musik country mungkin kurang cocok dijual di Alfamart daerah Sukabumi. CD Rave kurang cocok dijual di pom bensin. Dan berbagai contoh ketidaksinkronan lain – bukan soal bagus atau jelek, tapi cari pendengar yang akan paling mengapresiasi musik lu. Gimana caranya mencapai mereka? Tiap lagu bisa beda cara… tapi akhirnya, ya tergantung lu sendiri.

Rangkum kata – tentukan sendiri nasib musikmu. Mau semua pake do-it-yourself, mau kerjasama dengan distributor, atau mau cari ke major label, terserah – tapi harus tau pasti kemungkinan baik-buruknya apa. Cari informasi dan ilmu sebanyak mungkin, dan berpikirlah sebagai businessman. Karena di tahun 2012 dan seterusnya, musisi harus bisa menentukan sendiri karirnya.

About barijoe

Failed Musician, Reformed Gadget Freak and Eating Extraordinaire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: