Archive | February 2014

What I Learned About The Product Cycle From… Ringback Tones

Thoughts from a guy who used to sell them (but didn’t read one book about marketing and products)

A few years ago, I worked for one of the largest recording companies in the world, Universal Music Group, in their offices in Jakarta. I joined in 2004 after little over a year at Soundbuzz, itself an early player in the digital music industry, to help UMG establish a digital business in Indonesia. My title was something along the lines of ‘New Media & Mobile’. I guess it was still new back then, and mobile was basically about selling monophonic ringtones.

I joined Universal at an opportune time — it was around the moment when Telkomsel was starting an odd service called ringback tones. How it works is that the call tune — the sound you hear while your waiting for the person you call to pick up — is replaced with a 30-second snippet of a song. Fresh off running a ringtone production division for Soundbuzz, it still took me a while to digest what the product actually is, because at that time the service wasn’t up.

Read the rest of the original post on Medium.

Advertisements

[Manic Monday] Strategi Produksi Konten Di Era Multilayar

Hari ini, mungkin sudah lumrah untuk kebanyakan orang di daerah urban, dengan koneksi internet yang memadai, untuk menikmati konten dari paling tidak dua layar sekaligus di satu saat. Saat kita berada di meja kerja, mungkin kita sedang berhadapan dengan komputer, tapi partner bisnis kita ngobrolnya via instant messaging di smartphone. Saat kita di rumah, sering sekali kita, sambil menonton film di TV, tetap browsing di HP, laptop atau tablet mengenai film tersebut, atau malah melihat yang lain sama sekali. Di beberapa gedung perkantoran, bahkan ada TV yang menayangkan berita, yang biasanya kita dengarkan sambil tetap melihat HP kita. Kita memang sudah hidup di dunia multilayar.

Mayoritas konten yang kita nikmati melalui layar-layar media digital tersebut ituon-demand, sesuai yang kita inginkan. Hanya dengan semudah memasukkan beberapa kata kunci pencarian di Youtube, kita dapat menonton kucing-kucing menari sepuasnya. Layanan musik seperti iTunes dan Spotify menyediakan lagu apapun yang kita inginkan, dan iBooks atau Kobo menawarkan berbagai buku digital sesuai minat kita. Walaupun memang banyak media masih menawarkan model penyebaran informasi yang distribusinya berkala, dan bukan berdasarkan permintaan, perusahaan-perusahaan media tersebut lambat laun beradaptasi ke basis konsumen yang sudah cenderung bergerak ke on-demand.

Baca selanjutnya di Dailysocial.

[Manic Monday] Berkurangnya Peran Lagu Sebagai Komoditas

Dalam berbagai artikel yang sudah saya tulis di sini selama hampir dua tahun, adalah pergeseran-pergeseran dalam industri musik, terutama yang berhubungan dengan lagu itu sendiri. Industri musik [rekaman] yang sudah berjalan puluhan tahun memang menempatkan penggandaan sebuah rekaman lagu untuk dijual sebagai intinya, baik itu dalam format vinyl, kaset, CD ataupun media digital. Hukum-hukum berbagai negara bahkan sampai tingkat internasional di WIPO sudah dirancang untuk melindungi industri penggandaan ini. Dalam konteks ini, rekaman lagu adalah komoditi.

Mungkin saya tidak perlu mengulas ulang apa yang terjadi ketika rekaman lagu bertemu dengan media digital dan internet dalam waktu yang hampir sama, yang nyaris menihilkan makna dari bisnis penggandaan rekaman lagu. Transfer lagu dari media CD ke dalam format MP3 bisa dilakukan siapa saja, dan juga disebar dengan mudah melalui internet, sehingga kontrol ketat yang dibutuhkan dalam bisnis yang mengandalkan penggandaan satu barang menjadi hilang. Sayangnya, pergeseran teknologi dan kebiasaan ini bukannya diteliti baik-baik oleh industri musik rekaman, tapi malah diserang dengan dasar pembajakan, sampai hari ini.

Baca selanjutnya di Dailysocial.

[Manic Monday] Sentuhan Manusia Dalam Era Hiburan Digital

Minggu lalu saya menulis tentang perbandingan industri musik di Indonesia maupun di Vietnam. Perbedaan yang paling mencolok adalah tidak adanya major label, sehingga struktur industri yang biasanya ada dari perputaran lagu baru dan lama, siklus promosi dan media, bahkan distribusi musik sekalipun, dilakukan dengan berbeda. Aliran uang pun berbeda karena di negara lain umumnya infrastruktur distribusi rekaman musik itu sudah ada (seperti toko kaset dan CD) dan alur distribusinya dari perusahaan rekaman, gudang, distributor, hingga toko. Di Vietnam, toko khusus kaset dan CD tidak ada  – kalaupun sebelumnya ada, isinya barang-barang bajakan dan sudah lama hilang.

Yang ingin saya soroti lebih rinci di sini adalah proses promosi sebuah lagu — dan secara otomatis, artis yang menyanyikannya. Umumnya di Indonesia, sebuah “lagu baru” akan didistribusikan ke radio dan media lain, terkadang dengan rilisan pers, atau bahkan konferensi pers. Lagu ini akan diputar dan dibahas oleh media hingga publik makin menyukainya (atau tidak), sehingga bila tiba saatnya mulai menjual lagu atau albumnya, lagu tersebut sudah mendapatkan pengenalan yang maksimal ke publik, menaikkan kemungkinannya untuk mendapatkan penjualan yang tinggi.

Baca selanjutnya di Dailysocial.