Pentingnya Ekonomi Kreatif Dalam Strategi Ekonomi Indonesia

Dalam debat calon presiden semalam, sempat disebut-sebut soal ekonomi kreatif dan potensinya, terlebih lagi Pak Prabowo menyebut anaknya sebagai pelaku ekonomi kreatif yang sudah mulai dikenal di manca negara. Tapi, sebenarnya benda yang dinamakan ekonomi kreatif itu apa sih?

Buat gue sih ekonomi kreatif itu adalah industri atau usaha yang berdasar pada perwujudan hal ‘kreatif’ seperti seni, desain, pertunjukan, buku, dan sebagainya. Beda ya sama industri migas – bukan berarti seorang insinyur perminyakan tidak membutuhkan kreatifitas dalam pengembangan teknologi (dan pasti akan selalu butuh kalau konsumsi minyak kita harus makin diefisiensikan) – tapi, industri dalam ekonomi kreatif menjadikan kegiatan kreatif sebagai kegiatan utamanya. Kenapa disebut kegiatan kreatif? Karena kegiatan kreatif itu pasti ada proses kreasi. Masalah hasil proses kreasi itu ‘kreatif’ atau nggak ya urusan lain kan.

Kalau mau lihat contoh baik dari ekonomi kreatif, ya mungkin pertama justru lihat ke Inggris. Hanya Indonesia dan Inggris yang memiliki kementrian yang memikirkan soal ekonomi kreatif secara khusus. Kalau menimbang sejarah Inggris sendiri sih cukup logis – kekayaan budaya Inggris sudah tercatat dengan baik semenjak zaman pertengahan dan tak terputus oleh, misalnya, penjajahan (seperti halnya di Indonesia; malah mereka yang menjajah dan membawa ‘pengaruh’ ekonomi kreatif tersebut ikut serta ke negara-negara jajahannya). Produksi film, tv, buku, teater dan musik sangat tinggi di Inggris, cukup untuk konsumsi nasional dan bahkan sudah menjadi konsumsi internasional. Jadi tentunya, pemerintah Inggris sangat menyadari pentingnya nilai industri ekonomi kreatifnya.

Yang menarik disimak juga adalah fenomena Korean Wave yang sudah melanda dunia beberapa tahun ini. Korean Wave itu apa lagi sih kalau bukan ekspor produk budaya. Mungkin kita perlu sepakati dulu bahwa kata ‘budaya’ itu bukan sinonim dengan ‘budaya tradisional’, karena produk budaya modern pun ada. Produk-produk budaya Korea ini, hasil dari industri ekonomi kreatif, secara perlahan menyebar ke seluruh dunia, melalui TV, musik maupun film.

Kenapa sih strategi matang soal ekonomi kreatif itu penting buat Indonesia? Ya pertama sih, saat ini Indonesia itu bisa dibilang pasar, bukan produsen. Berbagai perusahaan asing maupun lokal berlomba menjalankan bisnis di Indonesia karena potensi pasarnya yang besar. Ya yang namanya bisnis, pasti mencari pasar. Nah, nyaris semua lini konsumsi masyarakat Indonesia itu sudah “digerogoti” oleh produk dari luar negeri – energi, pangan, elektronik, dan sebagainya. Tak terhindarkan, memang, karena infrastruktur produksi dan distribusi kita pun belum baik. Namun, belum tentu seperti itu untuk konsumsi produk ekonomi kreatif – diperkirakan bahwa konsumsi musik lokal di Indonesia itu 80% pasar. Sisanya baru produk dari luar negeri. Sepertinya buku pun seperti itu karena toh buku dari luar negeri hampir tidak ada yang berbahasa Indonesia (walaupun saya nggak punya informasi yang lebih baku soal ini). Kalau soal film, perbandingan jumlah produksi film lokal dibandingkan luar masih lebih tinggi film luar, jadi proporsi konsumsinya juga pasti masih berat ke produk luar. Tapi potensinya ada, dan pasarnya ada.

Kedua, soal defensibility. Kalau kita memikirkan soal ekspor kelapa sawit, ya berarti harus sedia kebun kelapa sawit, tenaga kerja, infrastruktur, dan lain-lain. Semua ekspor hasil bumi atau hasil tambang itu memerlukan modal yang besar (apalagi semenjak larangan pemerintah untuk mengekspor hasil tambang mentah, sehingga perlu adanya infrastruktur pengolah di Indonesia juga), dan bisnis ekspor hasil bumi itu memiliki risiko seperti pesaing dari negara lain, misalnya, batubara tidak hanya didapat dari Indonesia saja, sehingga perdagangan komoditi seperti ini akhirnya menjadi permainan angka. Kalau produk ekonomi kreatif? Kalau ada satu band bernama Nidji, ya cuma ada satu band bernama Nidji, walaupun banyak yang akan berusaha menirunya. Jadi paling tidak kalau ada persaingan dari negara lain, tidak mungkin akan dengan produk yang 100% persis sama sampai harus bersaing di harga. Ekonomi kreatif akan bersaing di konten.

Ketiga, soal skalabilitas. Kalau tadi saya sebut soal ekspor membutuhkan modal dan infrastruktur besar, ekonomi kreatif – walaupun tidak kalah membutuhkan modal dan infrastruktur yang relatif besar – bisa menghasilkan skalabilitas penghasilan yang jauh lebih tinggi. Jual satu kontainer kelapa sawit ya isinya adalah hasil panen kebun yang akan mengisi satu kontainer. Kalau ekonomi kreatif, dalam keadaan ideal, satu produk budaya dapat dijual berkali-kali. Satu proses kreasi dapat menghasilkan uang secara berulang-ulang, misalnya: sekali membuat (dan memodali produksi) konsep pertunjukan sendratari,  pertunjukan tersebut dapat ditampilkan berkali-kali ke penonton yang berbeda-beda. Satu produksi film memiliki potensi ditayangkan di ribuan layar bioskop film seluruh dunia. Contoh ekstrim dan ideal: modal usaha tambang Rp 50 M mungkin akan menghasilkan untung Rp 100 M, tapi modal usaha management artis Rp 10 M mungkin juga akan menghasilkan uang Rp 100 M. Bedanya memang, batubara “tinggal” gali dan jual di harga pasar, sementara artis harus dibangun sedemikian rupa sehingga meraih nilai pasar yang tinggi. Banyak hal “intangible” dalam produk ekonomi kreatif yang dapat melipatgandakan nilai jual maupun nilai pasarnya, dibandingkan dengan produk industri komoditi yang secara garis besar akan mengikuti hukum persediaan & permintaan (supply and demand).

Iya, iya. Tentunya tidak sesederhana itu. Tapi potensi dari ekonomi kreatif itu tinggi, dan Korean Wave  serta berbagai contoh lain harusnya cukup membuktikan pada kita bahwa potensi dari ekonomi kreatif tersebut itu banyak, yang belum tentu dapat ditakar secara uang. Karena tak kenal maka tak sayang, sehingga kalau Indonesia ingin menguasai dunia – atau paling tidak bermain di arena global –  alangkah baiknya dunia mengenal kita dari produk budaya kita, dan bukan dari pemberitaan buruk belaka.

Sekilas memang, Indonesia sebagai negara agraris dengan kekayaan alam melimpah, perlu menekankan pengembangan ekonomi ke arah hal-hal tersebut, terutama untuk kemandirian pangan dan energi. Ini tentu penting. Tapi tak kalah penting adalah, kekayaan budaya kita yang tak kalah melimpahnya, yang dikelola melalui ekonomi kreatif, dapat menjadi salah satu pilar utama dalam strategi ekonomi Indonesia.

About barijoe

Failed Musician, Reformed Gadget Freak and Eating Extraordinaire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: