Ibuku, Dan Distribusi Musik Digital

Ibu saya tahun ini akan menginjak umur 71 tahun. Mungkin seperti banyak ibu-ibu (beliau sebenarnya keukeuh disebut nenek-nenek) di area urban, sudah mengenal smartphone dan Facebook. Awalnya sekitar tiga tahun lalu, karena sejarah pergantian handphone Ibu saya itu biasanya terpaut ulang tahunnya. HPnya yang memang sudah lama sekali – sebuah Sony Ericsson T100 – diganti menjadi sebuah Samsung Galaxy Chat, karena tadinya Galaxy Chat tersebut dibelikan untuk Bapak, dan ternyata Bapak dibelikan sebuah Blackberry oleh anak-anak kantornya.

Setelah proses beberapa bulan membiasakan diri ke sebuah smartphone – dan beberapa saat hampir menyerah, akhirnya mulai lihai menggunakan Facebook dan Whatsapp. Awalnya memang untuk berhubungan terutama dengan kakak saya yang tinggal di Jepang, tapi akhirnya bertemu banyak teman yang dalam situasi sama – sudah tua, tidak banyak kegiatan, baru mulai menggunakan gadget. Sekarang sih Ibu saya bahkan sudah meng-add teman-teman kuliah saya (yang praktis semuanya sudah dianggap anak juga).

Karena melihat kebiasaan Ibu mendengarkan lagu via Youtube dari HPnya (dengan koneksi wifi di rumah peninggalan saya), saya memberikan sebuah mini speaker Divoom kepada beliau, awal tahun ini. Senang sekali Ibu. Saya yang khawatir, berhubung kalau koneksi internet via operatornya sedang jelek, kalau sedang tidak ada wifi, lagu-lagu suka terdengar putus-putus dan akhirnya saya harus menjelaskan soal infrastruktur internet – tidak mudah karena terakhir berurusan dengan komputer, Ibu sedang belajar COBOL atau FORTRAN (sekitar tahun 80an).

Tiba-tiba minggu lalu, Ibu cerita bahwa Bapak membelikan sebuah mobile speaker yang ada slot untuk memory card. Senang sekali katanya, suaranya bagus dan jadi nyanyi nyanyi terus. Produk ini nyaris nggak pernah melewati benak saya, dan kalaupun iya, saya berpikir, kenapa harus ada tempat memory cardnya? Ya ternyata ini jawabannya.

Ibu cerita bahwa ada temannya bilang, kalau mau membeli lagu lagi, tempatnya di Bandung. Harganya per lagu Rp 1500, tapi minimum harus 100 lagu. Pokoknya tempatnya di mana gitu, Kosambi kalo gak salah. Karena saya berkeinginan sebisa mungkin orang sekitar saya tidak menggunakan produk musik bajakan (I mean, come on, harga segitu nggak mungkin didapat dari toko MP3 asli apapun bentuknya). Jadilah, saya membeli beberapa album lama – Jim Reeves, Lobo, Pat Boone – dari iTunes, dan menyalin lagu-lagu tersebut ke microSD card – “chip”, kalau kata ibu saya – dan memasangnya dalam mobile speaker tadi. Ibu juga cerita bahwa temannya yang menggunakan produk serupa, punya beberapa “chip”, yang isinya dari lagu Barat lama sampai lagu Sunda, dan dibawa-bawa ke mana-mana, kalau mau mendengarkan, tinggal ganti chipnya.

Saya jadi penasaran, karena sebenarnya ini ya satu jenis konsumsi musik. Pelakunya tidak terlalu faham soal internet, boro-boro soal iTunes Store. Pas saya cerita soal membeli lagu di iTunes, saya bilang bahwa karena Ibu saya pake HP Android, beli lagunya harus pakai komputer dulu, baru dipindahkan ke HP (atau “chip” tadi). Langsung nggak minat. Dapet berbagai lagu dan video biasanya dari kiriman teman via Whatsapp, atau search di YouTube. Konsep bahwa sebenarnya ada “file” yang “disimpan” pun baru saya ajarkan. Digital immigrantnya malah melebihi kami-kami ini yang “ikut besar” bersama internet; tidak mengalami Napster, tidak mengalami The Pirate Bay, langsung ketemu YouTube, Facebook dan Whatsapp, dalam bentuk yang sudah sangat user friendly. Tapi kalau sedang “tidak ada internet” tetap ingin mendengarkan musik, gimana? Ya melalui “chip” tadi.

“Chip” ini adalah sebagai jalur distribusi musik digital, tapi hidup nyaris tidak bersentuhan dengan internet. Tidak ada toko online, tidak ada streaming, tidak ada music label, yang ada adalah peer-to-peer viral distribution. Dia hadir untuk memenuhi keinginan sekelompok orang yang bukannya tidak peduli, tapi tidak paham soal legalitas musik digital, tidak paham soal iTunes, tidak paham soal Spotify, tapi tetap memiliki keinginan dan kebutuhan untuk mendengarkan musik (dalam kasus Ibu saya, untuk mendengarkan lagu-lagu lama). Pemerintah ataupun para music label sih silakan berkoar-koar soal gerakan anti-pembajakan, tapi kalau bentuknya sudah digital, nyatanya akan menemukan cara untuk menyebar dengan sendirinya. Nyatanya, ada orang-orang seperti Ibu saya yang sebenarnya sudah tidak masalah untuk keluar uang sebesar Rp 150 ribu tadi, untuk mendapatkan lagu-lagu yang beliau senangi, tapi “hanya” diberikan solusi untuk, misalnya, membeli CD. CD player di rumah malah nganggur sekarang, berhubung Ibu lebih senang mendengarkan musik dari HPnya atau “chip”nya tadi. Untuk orang berumur 70 tahun pun, konsumsi musik sudah bergeser.

Pertanyaan saya yang terutama adalah, sebenarnya “chip” ini bisa jadi kesempatan bisnis kan? Jual “chip” dengan speaker mobile, misalnya. Atau berinovasi cara berjualan – jangan hanya berkutat dengan toko CD atau toko online, tapi manfaatkan juga jaringan sosial – bukan Facebook, tapi arisan. Inovasi dalam pengembangan distribusi musik masih memiliki banyak sisi yang bisa diulik, bukan hanya dari segi teknologi, tapi juga dari pendekatan sosial dan psikologi.

Contoh: adanya waralaba minimarket kan sebenarnya menyikapi kebutuhan dan keinginan pasar juga, memberikan alternatif dari warung dengan experience yang berbeda. Tapi kok ya kalau ada penjualan musik di situ, kok ya tetap saja jual CD? Kenapa nggak dibundling dengan produk lain, misalnya. Atau bikin kios khusus untuk menyalin lagu ke “chip” tadi. Paling tidak, sesuatu yang mendekati kebiasaan dan daya beli konsumen.

Saya sudah lama berpikir bahwa rekaman suara sebagai komoditi sudah tidak masuk akal secara bisnis. Tapi ya mungkin masalahnya adalah, kita sendiri di industri musik kurang jeli meneliti dan membaca kebiasaan.

About barijoe

Failed Musician, Reformed Gadget Freak and Eating Extraordinaire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: