Archive | December 2009

Kacil = Kamar Kancil?

Media_httpplisdehcomw_ksaiy

submitted by iiiccchhhaaa.

Advertisements

Mailbox

Media_httpplisdehcomw_bivin

contributed by iiiccchhhaaa and unwinged. Thanks!

How About We Just Make Statues Of Hello Kitty?

The local MUI of Banten has recently declared haram the proposed statue of Sultan Banten Maulana Hasanudin, which in a cooperation between the South Tangerang City Administration and some private partners, would have been erected in one of the busiest roundabouts in the Pamulang area.I haven’t the slightest idea on why this Sultan is so important as to erect a statue of him, but the MUI is apparently concerned that it will become a place of idol-worship towards the Sultan’s statue, which is blasphemy. Rightly so they say that the money can be better spent elsewhere.So any comments on the other statue already standing (and protested) in the Menteng area, MUI?

Koin Untuk Keadilan – Dan People Power 2.0

Hari ini, konser Koin Untuk Keadilan diselenggarakan di Hard Rock Cafe, Jakarta, sebuah acara yang merupakan sebuah inisiatif para musisi, label dan profesional media untuk menggalang dana untuk Prita Mulyasari (pada awalnya) dan berubah jadi salah satu acara simbol generasi muda Indonesia melawan ketidakadilan.

Berhubungan atau tidak, kita melihat sebuah pergerakan baru generasi muda Indonesia untuk mengangkat sebuah isu sosial, dengan cara yang jauh lebih ‘media-friendly’, yang mulai terlihat pertengahan Juli lalu. Barisan-barisan demonstran sudah mulai ditinggalkan, karena ekspresi orasi di jalanan sudah dimiliki berbagai rombongan yang lain, yang suaranya cenderung hilang di antara berita macet dan klakson mobil.

Mengangkat sebuah isu yang harus disosialisasikan dan didukung ternyata bisa dilakukan secara lebih simpatik dan efektif – melalui media, melalui seni, dan dengan bahasa yang lebih moderat dan dapat diterima orang kebanyakan.

Seorang kawan pernah bertanya, mengapa semua orang mengumpulkan koin untuk Prita? Apa kabar berbagai ketidakadilan lain yang sudah marak di Indonesia? Yang harus kita tanya, aoa yang membuat kasus ibu Prita Mulyasari berbeda dengan berbagai kasus dan berita lain yang tiap hari muncul?

Pengumpulan koin untuk Prita yang berhasil mencapai Rp 650 juta itu memberikan sebuah jalur ekspresi untuk orang dari berbagai kalangan dan lapisan masyarakat – untuk melawan ketidakadilan. Seseorang yang hanya memiliki keping uang Rp 100 pun, bisa menyerahkan koin ke tempat koleksi, dan berkata, ‘Saya, hari ini, telah berjuang melawan ketidakadilan’. Sumbangan dari siapapun, dan sebanyak apapun, mempunyai arti kolektif yang kuat: bahwa bersama-sama, kita bisa membuat sebuah langkah perbedaan; tidak perlu pansus atau tim pencari fakta.

Kuncinya mudah: berikan sebuah jalur ekspresi yang mudah dilakukan oleh banyak orang, untuk berbagai alasan – misalnya, menyumbang koin, atau memakai batik – dan kita akan lihat bahwa ternyata masyarakat Indonesia, hari ini, ternyata tidak setidakberdaya dan apatis yang dikira.

Gerakan Koin Keadilan untuk Prita bergerak secara lebih cerdas, lebih cermat dan lebih mendalam jika dibandingkan berbagai tuntutan protes gerombolan massa yang hampir tiap hari menyambangi berbagai instansi dan lokasi lain. Kenapa? Karena opini publik bisa terbentuk, dan publik juga diberikan cara untuk mendukung yang mudah.
Tanpa mengurangi rasa hormat dan kagum kepada pencetus kampanye Koin Keadilan untuk Prita beserta berbagai aktivitasnya, gerakan ini hanya akan sebesar ini jika didulung oleh banyak orang yang bergerak secara bersama-sama, dengan premis yang sederhana, dan tujuan jelas. People Power 2.0 ditentukan oleh konsep komunikasi yang jelas dan cara terlibat yang mudah, ketimbang didasarkan konsep politik atau filosofis yang mendalam yang diperkuat jumlah massa yang besar.

Penekanan pada kesederhanaan cara berpartisipasi sebenarnya sudah ada semenjak pita merah untuk kewaspadaan HIV/AIDS (atau malah sebelumnya), gelang karet Livestrong, sampai kampanye Product Red. Namun perlawanan rakyat melawan apatisme dirinya sendiri, untuk melawan terorisme, membanggakan batik, sampai mengumpulkan koin untuk melawan ketidakadilan, merupakan fenomena yang cukup baru dan menggembirakan di Indonesia.

Dukungan menggebu-gebu profesional musisi, media dan industri musik untuk konser hari ini merupakan salah satu perwujudannya – dan akan melaksanakan tugasnya yang utamanya, yaitu: menginspirasi orang bahwa siapapun dapat bertidak dan melawan ketidakadilan, sekecil atau sebesar apapun kontribusinya. Karena musuh terbesar masyarakat Indonesia sekarang bukan penjajah asing, tapi penjajah yang adalah saudara sendiri.

Kita yang berbuat, tidak perlu menunggu pemerintah atau Presiden berbuat. Dengan kekuatan crowdsourcing, tujuan yang jelas dan dapat didukung akan muncul dengan sendirinya melalui diskusi sehat dan terbuka. Dan ekspresi dukungan pun bisa dilakukan dengan berbagai cara.

Hari ini saya bangga berbangsa Indonesia – dan saya lebih senang lagi bahwa perjuangan demi bangsa dan negara yang lebih baik, ternyata ada di benak banyak orang secara serempak. Energi sudah ada, jadi mari kita tuangkan dalam apapun yang menurut kita akan membuat negeri ini lebih baik. Setiap ‘koin’ yang kita sumbangkan demi bangsa, akan berarti banyak untuk bangsa secara keseluruhan. Nggak perlu lihat atau hitung siapa menyumbang berapa, yang penting sumbangannya dulu. Dengan cara ini, mudah-mudahan, orang-orang yang konon katanya pemimpin bangsa kita, akan tergerak untuk kembali melihat gambaran besar membangun bangsa, dan tidak membiarkan negeri ini tertelan dan tenggelam oleh hisapan politik busuk.

Perjuangan masih berlanjut, kawan!

Safety versus Profit Conspiracies

Reader comments on an article reporting on the new rules and fines being imposed to motorcycle riders cover a range of reactions; from the usual:- it’s about time there was a crackdown on the reckless motorcycle ridersto the somewhat illogical:- if this goes on, sooner or later they’ll be fining pedestriansto the conspiracy theorists:- this rule does not side with the ‘little people’. It is a conspiracy between the city administration and the producers of motorcycle headlights to increase sales.So I wonder how people would react to the rule where drivers are not allowed to make calls while driving? Maybe they’ll say it’s a conspiracy between the city administration and producers of cellphone handsfree kits.That said, I am not aware if this HP handsfree rule applies to motorcyclists, which we still often see making calls while riding their motorcycles.