Archive | March 2013

[Manic Monday] Mencari Paradigma Baru Untuk Industri Konten

Dahulu, industri hiburan adalah sebuah proses yang cenderung lurus dan vertikal. Seperti sekarang, siapapun dapat berkreasi namun pada akhirnya karya hiburan yang akan diberikan investasi terbesar (yang juga berarti promosi dan distribusi terbesar) adalah yang dinilai oleh pemilik modal di industri hiburan, yang akan dapat dicerna oleh orang banyak, dan paling mungkin mendapatkan pengembalian modal – malah keuntungan besar. Hukum skala ekonomi berlaku: investasi pada satu hal dengan nilai investasi yang tetap/statis, yang kemudian digandakan untuk keuntungan berlipat. Tentunya, alur vertikal ini sangat tergantung pada kontrol terhadap semua lini industri – dari penciptaan kreasi, produksi, promosi, pemasaran, distribusi, dan bahkan harga jual.

Penciptaan sebuah kreasi sekarang lebih mudah, terlepas dari kualitas dan keahlian, dan pastinya lebih murah. Lihat saja, sebuah Instagram dapat menyalurkan jutaan fotografer ‘mendadak’ dan memberikan mereka sebuah panggung. Produksi, yang dahulu sangat mahal, sekarang memiliki rentang yang sangat lebar, dari home video sampai kamera digital untuk film 3D, yang juga memberikan rentang yang sangat lebar untuk hasil kreasinya.

Baca selanjutnya di Dailysocial.

Advertisements

[Manic Monday] Masih Ingat Industri Konten “Lama”?

Satu hal yang tragis dalam kehidupan kita yang kian digital adalah, apapun yang muncul pada kita melalui sebuah ‘layar’ (bisa saja layar TV, komputer ataupun HP) muncul dalam hitungan detik, dan dapat dicari sesuai keinginan. Ada di internet, atau tidak ada sama sekali. Sama sekali tidak ada kondisi peralihan di internet – bahkan layanan yang masih di dalam tahap beta, ya sudah ada, dan Anda tidak akan melihat proses pembangunannya bila tidak melihat secara seksama. Meniru bahan dasarnya yang berupa byte, karena hanya kondisi ‘0’ dan ‘1’ berlaku. Nyala, atau mati. Dan dalam banyak kasus, baik, atau buruk. Di-‘Like’, atau tidak di-‘Like’.

Saya berasal dari generasi yang terburu-buru pulang supaya dapat nonton kartun sore di TV, ya karena tidak ada cara lain untuk menontonnya. Sabtu pagi adalah saat yang ditunggu-tunggu karena rentetan kartun yang dapat ditonton dari pagi sampai jam 10, dan sehari dua hari dalam seminggu ditunggu-tunggu karena penasaran episode apa yang akan disajikan serial TV favorit. Dan tentunya, menonton film adalah acara istimewa – semua orang nonton film baru pada saat yang kurang lebih sama, dan pasti akan menjadi topik pembicaraan di antara teman-teman.

Baca selanjutnya di Dailysocial.

[Manic Monday] Perlukah Industri Musik ‘Disembuhkan’?

Dari satu aspek, memang musik seperti sedang porak-poranda. Sulit mencari toko CD atau kaset karena banyak yang sudah tutup. Ringbacktone, yang sempat menjadi andalan industri musik, sudah nyaris tak dipakai lagi. Toko-toko yang menjual file musik digital (seperti MP3) sudah berjalan beberapa tahun tapi tetap, belum terlihat minat pasar yang besar; penjualan lagu lewat  iTunes Indonesia sekalipun, menurut kabar, meskipun menunjukkan pertumbuhan yang pesat, masih belum memiliki dampak yang signifikan. Sementara itu, lagu-lagu yang sama bisa didapatkan bebas dari berbagai situs web, tanpa biaya, dan tanpa renumerasi ke pemilik rekaman suara.

Kalau dilihat hanya dari aspek tersebut, memang sepertinya musik sedang ‘sakit’ dan perlu ‘disembuhkan’. Tapi, sebenarnya sakitnya apa sih? Musik seperti sedang celaka dan perlu ‘diselamatkan’. Tapi apa yang perlu diselamatkan sebenarnya?

Kalau dilihat dari sisi lain, musik di Indonesia justru makin hidup. Bisa dibilang bahwa beberapa tahun terakhir, jumlah pertunjukan musik peningkat pesat, begitu pula perputaran uangnya, dan sudah sampai pada tahap musisi lokal pun dapat membuat pertunjukan berbayar (yang sebelumnya biasanya adalah pertunjukan gratis yang disponsori). Saya menduga bahwa konsumsi musik per kapita juga meningkat, terlepas dari soal sumbernya legal ataupun tidak. Jumlah radio pun bertahan dengan berbagai variasi dan segmen, sampai-sampai di Jakarta sudah tidak mungkin membuat stasiun radio lagi karena gelombang sudah penuh. Apakah hal-hal ini perlu disembuhkan? Apakah musik perlu diselamatkan?

Baca selanjutnya di Dailysocial.