Jalan Raya, Ruang Publik Yang Terlupakan

Ruang publik, di kepala kita adalah ruang-ruang yang bisa digunakan orang banyak. Yah, kurang lebih seperti itu – taman, lapangan bola, sampai mall pun bisa disebut ruang publik. Tapi ada satu ruang publik yang mungkin terlupakan, karena seringnya kita tidak merasakan langsung ruang publik tersebut.

Kalau di tempat ramai seperti restoran atau taman, kalau kita berisik kan pasti minimal dipelototi orang-orang sekitar, apa lagi kalau kita sudah pada tahap sangat mengganggu. Pastinya terjadi cekcok atau debat. Sebelum itu terjadi, pasti ada teman atau keluarga yang sudah menegur duluan, ‘jangan berisik, nanti yang lain terganggu’. Intinya, di ruang publik, kita diajarkan untuk kalau tidak memikirkan orang lain, paling tidak menghindari konflik dengan orang lain.

Jalan raya sebenarnya merupakan rentetan ruang publik yang terbesar yang bisa dimiliki sebuah kota, karena satu jalan digunakan beramai-ramai oleh siapa saja, pejalan kaki sampai pengendara truk sekalipun. Demi alasan keamanan, tentunya, ruang yang disediakan untuk pejalan kaki dan pengguna kendaraan itu dibedakan, meskipun hal ini banyak tidak dipenuhi. Akhirnya, jalan raya menjadi ruang publik yang berantakan, yang peruntukannya jadi kurang jelas dan mudah terjadi konflik. 

Masalah pertama adalah, meskipun jalan raya ini digunakan bersama-sama, persepsi penggunaan bersama – yang mungkin akan lebih mudah menimbulkan tenggang rasa antara pengguna – tidak muncul. Kenapa? Karena kita menggunakan jalan tersebut dengan ruang kecil masing-masing, dengan perbatasan masing-masing, yaitu mobil. Pengguna motor bahkan akan terkungkung dalam ruang kecil berupa helm, walaupun tidak sepenuhnya. Kenapa banyak pengguna mobil seperti tidak menghiraukan pengguna motor maupun pejalan kaki ya karena ini – karena di luar perbatasan ruangnya, apa yang terlihat lewat jendela bisa jadi tidak nyata. Menyetir mobilnya bahkan tidak menggunakan akal sehat – hanya berupa refleks: ada rongga kosong dimasuki, sedang di jalur kiri tapi mau belok kanan ya bodo amat; kemarahan siapapun yang terganggu tidak akan menembus batas-batas ruang ini; yang hanya terdengar hanya kicauan klakson yang makin lama makin menyatu dengan suara latar biasa di jalan raya, dan suara tidak akan menyakitiku. Ruang-ruang lain, mobil-mobil lain itu tidak nyata, hanya gangguan dalam mimpi perjalanan.

Kalau terjadi senggolan dengan kendaraan lain, barulah kita dibangunkan dari mimpi kita bahwa dunia di luar jendela mobil itu sebenarnya nyata, makanya kita marah. Marah karena batas ruang kita terguncang. Marah, karena kita dibangunkan secara paksa.

Makanya pengendara motor itu cenderung lebih tenggang rasa antara sesama, karena batas ruang ini hanya terbuat dari helm. Tapi ini tidak berarti, tenggang rasa ini juga dirasakan ke pengguna mobil, karena mobil-mobil yang mereka lihat adalah ruang-ruang berbatas tanpa nama, yang menghalangi jalan mereka; mobil-mobil ini memiliki personifikasi sendiri saat ‘wah mobil itu nggak mau ngasih jalan’ atau ‘mobil di belakang nggak sabar banget’. Nggak sadar bahwa memotong jalan atau menyalip di tikungan ke ruang-ruang tanpa nama ini membahayakan dia sendiri maupun si pengemudi mobil.

Dan karena batas-batas tersebut, kita lupa bahwa ada manusia di baliknya. Bisa jadi ada seorang anak kecil yang melihat anak-anak sebayanya menaiki motor bertiga tanpa helm dan berkata, ‘oh jadi kayak gitu nggak papa’. Bisa jadi ada seorang pengemudi muda melihat mobil mengebut di atas batas kecepatan, mepet-mepet dan nyalip-nyalip, dan melihat itu sebagai perilaku yang wajar dan sama sekali tak membahayakan orang lain. Karena batas-batas ruang tadi, perilaku buruk tersebut menjadi sesuatu yang semu, karena tidak berakibat. Bahkan kalau ada kecelakaan pun, yang kita lihat mobil atau motor, dan mungkin secara bawah sadar lupa bahwa ada manusia yang mengendarainya. Manusia, yang tingkat keahlian mengemudinya berbeda, kecepatan reaksinya berbeda, dan jalan pikirannya berbeda.

Di jalan raya, kita lupa bahwa meskipun ada batas-batas ruang yang terwujud dalam bentuk mobil dan motor, itu merupakan area publik yang digunakan sesama manusia. Mungkin sebenarnya kita juga lupa, bahwa dalam hidup bersama manusia lain, diperlukan empati dan tenggang rasa, kalaupun kita tidak menghiraukan sopan santun yang mungkin berbeda antara satu keluarga dan yang lain. Dan tentunya, kita harus memberi contoh yang baik bagaimana berperilaku paling tidak di ruang publik.

Mungkin inti masalahnya bukan perilaku di jalan, tapi di hal lain. Tapi masa sih, kita nggak bisa mulai membentuk diri kita yang lebih baik dengan beberapa hal sederhana, seperti berkendara dengan baik, cermat dan bijak? Memangnya sesulit itu ya menaati aturan lalu lintas, yang notabene dibuat untuk keamanan kita, bukan untuk mengekang? Memangnya ada terpaan cobaan apa yang datang ke kita kalau kita tidak melebihi batas kecepatan dan tidak menjaga jarak aman di jalan tol? Memangnya sebesar itukah pengorbanannya untuk menggunakan helm?

Karena jalan raya itu ruang publik, kita yang berkendara – yang mempunyai SIM – sebenarnya memiliki sebuah tanggung jawab. Untuk menaati aturan lalu lintas, dan saling menjaga sesama pengendara, dan bukan bersaing balap-balapan. Ruang publik yang digunakan bersama seharusnya digunakan secara optimal untuk kepentingan bersama kan, bukan terus nyalip dari kiri untuk mendahului antrian macet (dan malah bikin tambah macet). Menyadari bahwa lampu hijau itu pengatur lalu lintas, bukan penanda hak untuk maju (dan membunyikan klakson ketika hak tidak segera diberikan).

Memang tidak semua orang akan sepandangan dengan di atas. Malah ada yang tidak akan peduli dengan orang lain sama sekali, meskipun sudah sadar bahwa ada manusia dalam mobil atau di atas motor tersebut. Manusia-manusia ini yang biasanya suka motong antrian, kebut-kebutan dan lain-lain. Tapi tidak berarti kita jadi harus ikut seperti itu. Sakit hati memang kalau lihat mobil yang motong antrian jadi lolos macet duluan, tapi hanya kita sendiri yang bisa menahan diri untuk tidak menjadi orang itu. Bukan karena kita sudah menjadi orang yang lebih baik atau lebih suci, tapi karena kita ingin lebih baik. Dan seharusnya, ingin menjadi orang lebih baik itu dihargai. Dan yang menghargai adalah orang-orang dengan cita-cita sama, yang tidak membiarkan perilaku buruk sekitarnya mendikte apa yang harus dilakukan.

Jalan raya adalah ruang publik berisi manusia, jadi mari kita gunakan demi kebaikan kita bersama. Mungkin dengan mulai dari hal ini, hal-hal publik lain seperti taman atau transportasi juga bisa dinikmati dan dijaga secara bersama juga kelak.

About barijoe

Failed Musician, Reformed Gadget Freak and Eating Extraordinaire.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: